Back to natural Selamat berkunjung di Blog ini !

Thursday, June 2, 2011

PROPOSAL PTK


Proposal
Penelitian Tindakan Kelas
Penambahan Media Pembelajaran yang Refresentatif untuk            Meningkatkan Penguasaan Tentang Materi Peta Lingkungan Setempat di SDN 09 Karangtengah (IPS)
Oleh :
ADISTY RIZKI ANDRIYAN
                             (Guru Kelas IV SDN 09 Karangtengah)










SEKOLAH DASAR NEGERI 09 KARANGTENGAH
KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT
2011


BAB  I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Sejarah dalam tulisan atau dokumentasi ini menjadi sarana penting bagi kita dalam mempelajari kemajuan dan kemunduran yang terkandung dalam nernagai peristiwa dimasa lalu. Dengan demikian, pelajaran dari peristiwa masa lalu yang sudah menjadi menyejarah menjadi sangat berguna dalam memaknai hidup yang tengah berjalan demi kemajuan dimasa depan. Tujuan pembelajaran sejarah bukan sekedar transfer of knowledge tetapi juga transfer of value
Nilai fundamental mata pelajaran sejarah terarah pada pencerahan jiwa dalam berbagai aspek seperti memupuk jiwa demokratis dan kemanusiaan, mengembangkan sikap jujur, adil serta kerelaan berkorban serta tidak kalah pentingnya menanamkan dan menumbuhkan jiwa nsionalisme dan patriotism dikalangan generasi muda sehingga sadar dan inyaf untuk mencintai bangsa dan negaranya.
Dilain pihak kondisi objektif menunjukkan hingga kini, pengajaran sejarah mulai dari tingkat SD sampai pada tingkat SLTA masih kurang mengembirakan. Kondisi ini bukan kasuistik spasial dan temporal tertentu melainkan bersifat universal. I Putu Suwita juga menangkap adanya  kondisi ke kurang menarikan pelajaran sejarah. “Pelajaran sejarah belum dapat perhatian serius sehingga dianggap pelajaran yang membosankan” (Anhar Gong-gong – Editor, 1990 : 113).
Faktor lain justru melibatkan guru sejarah adalah faktor cara mengajar sejarah. Mata pelajaran sejarah diajarkan dengan satu metode andalan ‘ceramah’ atau diskreasi sedikit dengan istilah ‘ceramah bervariasi’. Siswa masih diposisikan sebagai objek dan lebih mengarah pada produk, bukan proses. Akibatnya sejrah identik dengan ceramah, seolah-olah pembelajaran sejarah mentabukan inovasi dalam desain pembelajaran.
 
1.2  Tujuan penelitian
Berdasarkan kajian latar belakang di atas, penulisan melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Disamping itu untuk memperbaiki pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran ini juga ditunjukkan untuk memenuhi tugas Penelitian Tindaka  Kelas (IDIK 4008) pada program S1 PGSD.

1.3  Prosedur Penulisan Laporan
Proposal ini disusun berdasarkan langkah-langkah berikut ini.
a.       Tahap Persiapan
-          Menentukan mata pelajaran dan materi yang akan diteliti
-          Meminta bantuan teman sejawat yang akan membantu mengobservasi kegiatan pembelajaran
b.      Tahap Pelaksanaan
-          Bersama teman sejawat dan supervisor, penulis melakukan diskusi untuk menentukan perangkat yang akan digunakan untuk melakukan observasi
-          Melaksanakan proses pembelajaran
-          Melakukan refleksi, diskusi dengan teman sejawat dan supervisor
-          Melakukan evaluasi dan menentukan langkah berikutnya

1.4  Jumlah Siklus
Jumlah siklus yang dilakukan dalam perbaikan pembelajaran ini terdiri dari 2 siklus, yaitu dengan langkah beriut ini :
Pembelajaran IPS
Pelaksanaan RP           :  14 Februari 2011
Pelaksanaan RPP 1     :  17 Februari 2011
Pelaksanaan RPP 2     :  22 Februari 2011
Kompetensi Dasar       : Membaca peta lingkungan setempat (Kab/Koata/propinsi) dengan menggunakan skala sederhana
Kelas/Semester            :  IV/1
Waktu                         :  2 x 35 menit
Tempat                        :  SDN 09 Karangtengah

1.5  Gambaran Umum Isi Proposal
Penulis berkesimpulan bahwa daya serap siswa masih rendah pada materi pelajaran IPS sehingga harus dicarikan solusinya.
Setelah melakukan diskusi dengan teman sejawat serta melakukan perbaikan pembelajaran dengan metode bervariasi, penulis melakukan 2 siklus pada mata pelajaran tersebut diatas. Setelah melakukan perbaikan pembelajaran, ternyata daya serap siswa terhadap mata pelajaran IPS ada peningkatan.






















BAB  II
KAJIAN PUSTAKA
Pada bagian terdahulu dikemukakan bahwa proses pengajaran merupakan proses komunikasi anatar sumber pesan dengan penerima pesan. Guru dapat berperan sebagai sumber pesan atau mungkin hanya sebagai pengelola pesan. Sebagai sumber pesan berarti guru harus menciptakan kondisi yang memungkinkan proses komunikasi berjalan lancer, agar pesan yang disampaikan dapat diterima melalui “chanel” khusus yaitu alat0alat indera siswa. Guru perlu mengidentifikasi berbagai kemungkinan atau hal-hal yang dapat menggagu proses terjadinya komunikasi yaitu dengan menggunakan alat-alat bantu pengajaran. Alat bantu bukan hanya dapat memperlancar proses komunikasi akan tetapi dapat merangsang siswa untuk merospon dengan cepat tentang pesan yang akan disampaikan. Oleh sebab itu alat bantu yang dapat mendukung proses kelancaran komunikasi antara guru dan siswa dapat dipandang sebagai media pengajaran.
Untuk memahami proses komunikasi serta hubungannya dengan media pengajaran dapat dilihat pola pengajaran dibawah ini :
a.       Kurikulum – Guru/Instruktur – Peserta;
b.      Kurikulum – Guru/Instruktur – Alat Peraga – Peserta;
c.       Kurikulum – Guru/Instruktur – Alat Peraga – Media – Peserta;
d.      Kurikulum – Media – Peserta;
Dengan memperhatikan pla diatas maka media dapat dipandang sebagai alat dan bahan yang digunakan guru/instruktur tau sumber belajar lainnya untuk memudahkan proses belajar siswa. Melalui media siswa dapat memperoleh pesan, memperkuat dan memperluas pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pandangan Rossi Breidle (1966:3) yang mengemukakan bahwa media pengajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan seperti, radio, televise, buku, Koran, majalah dan sebagainya. Menurut pandangan Rossi alat-alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan deprogram untuk pendidikan maka merupakan media pengajaran.
Namun demikian media bukan hanya berupa alat bantu saja, akan tetapi hal-hal lain yang dapat memungkinkan siswa atau siswi dapat memeperoleh pengetahuan. Hal ini sesuai dengan pandangan Gerlach dan Ely (1980:244) yang menyatakan : “A Medium, Broadly Conceived is any person, material or event that establishes condition which enable the leaner to acquire knowledge, skill and attitude”. Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Jadi dalam pengertian ini media bukan hanya alat pelantara seperti televisi, radio, slide, bahan cetakan, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar seperti dokter, mesin dan sebagainya, atau juga berupa kegiatan yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan merubah sikap siswa dan memilih keterampilan seperti dalam kegiatan darmawisata, demonstrasi dan sebagainya.
Selain pengertian diatas ada juga yang berpendapat bahwa media pengajaran meliputi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat-alat yang dapat mengantarkan pesan seperti Over Head Projektor, radio televisi dan sebagainya; atau bahan belajar seperti film, bahan cetatakan transparasi dan sebagainya. Gerlach dan Ely (1975:284) mengemukakan bahwa hardware adalah “The aterials and equipment which store for transmitinstructional stimuli or concent”.
Kemudian yang dimaksud dengan software adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasi yang terdapat pada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, diagram dan sebagainya.
Perolehan pengetahuan siswa digambarkan dalam kerucut pengalaman seperti yang digambarkan oleh Edgar Dale. Pengetahuan akan semakin abstrak apabila hanya disampaikan melalui kata verbal. Hal ini memmungkinkan terjadinya verbalisme, artinya siswa hanya mengetahui tentang kata tanpa memahami dan mengerti makna yang terkandung dalam kata tersebut. Hal semacam ini dapat menimbulkan kesalahan persepsi siswa. Oleh sebab itu sebiaknya diusahakan agar pengalaman siswa menjadi lebih konkrit pesan yang ingin disampaikan benar-benar dapat mencapai sasaran dan tujuan yang ingin dicapai, dilakukan melalui kegiatan yang dapat mendekatkan siswa dengan kondisi yang sebenarnya.
Hal lain, penyampaian informasi hanya melalui bahasa verbal selain dapat menimbulkan verbalisme dan kesalahan perespsi juga gairah siswa untuk menangkap pesan akan semakin kurang, karena siswa kurang diajak berpikir atau menhayati pesan yang akan disampaikan. Padahal untuk memahami sesuatu perlu keterlibatan siswa baik fisik mauun psikis. Umpamanya bagaimana siswa dapat memahami dan menghayati apalagi dapat melakukan hanya dengan mendengarkan saja cerita guru, siswa akan lebih memahami dan menghayati apabila secara langsung terlibat dalam kegitan.
Akan tetapi pada kenyataannya memberikan pengalaman langsung kepada siswa bukan sesuatu yang mudah bukn hanya menyangkut segi perencanaan  dan waktu saja yang dapat menjadi kendala, akan tetapi memang ada pengalaman yang sangat tidak mungkin dipelajari secara langsung oleh siswa. Katakan saja guru ingin memberikan informasi tentang kehidupan dasar laut atau kebudayaan suku terpencil. Guru tida mungkin dapat memberikan pengalaman langsung untuk kegiatan tersebut. Oleh karena itu peranan media diperlukan dalam kegiatan proses belajar mengajar. Guru dapat mempergunakan fim televisi aatau gambar untuk memberikan informasi yang lebih baik kepada siswa. Melalui media pengajaran hal yang abstrak bias lebih menjadi konkrit.
Oleh sebab itu secara khusus media pengajaran berfungsi dan berperan untuk :
Berdasarkan fungsi dan peranan diatas, maka penggunaan media didalam proses belajar mengajar memiliki manfaat sebagai berikut (Kemp, 1975:6)
1.      Pengajaran menjadi lebih produktif
Dengan menyediakan berbagai bahan belajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran maka dapat merangsang siswa untuk menggunakan waktu belajar sebaik-baiknya. Selain itu dengan leterlibatan siswa baik secara fisik maupun psikis, maka proses belajar mengajar akan semakin berkualitas, sebab siswa dituntut tidak hanya mendengarkan saja melainkan ikut mencari, menghayati dan memecahkan persoalan. Hal ini berarti dapat memberikan pengalaman baru yang lebih berharga.
2.      Pengajaran menjadi bersifat individual
Disadari walaupun proses belajar mengajar berlangsung secara klasikal, namun pada dasarnya siswa belajar secara individual dan secara kodrat memiliki perbedaan baik minat bakat, maupun kemampuan. Tidak akan ada siswa yang sama persis dalam berbagai hal, sehingga dengan menggunakan media sebagai sumber belajar maka dapat memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar dengan cara dan kecepatan sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
3.      Pengajaran akan lebih bersifat langsung
Dengan menggunakan media diharapkan siswa tidak hanya mendengarkan penjelasan guru melalui bahasa verbal. Melainkan mengajak siswa secara langsung untuk memahami dan berinteraksi dengan sumber belajar. Penggunaan media akan dapat menjembatani jurang pemisah antara dunia di dalam kelas dengan dunia di luar kelas. Melalui model atau benda tiruan siswa dapat mempelajari berbagai objek yang terletak jauh dan terlalu besar yang tidak mungkin dibawa langsung kedalam kelas.  






BAB  III
RENCANA PERBAIKAN PEMBELAJARAN
3.1  Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas ini meliputi masalah mata pelajaran IPS.

3.1.1        Identifikasi Masalah pada Mata Pelajaran IPS
Berdasarkan dari beberapa kali ulangan, ternyata hanya 2 orang dari 32 siswa kelas IV yang mencapai tingkat penguasaan materi sebesar 70% ke atas.
Berdasarkan refleksi dan diskusi dengan teman sejawat terhadap proses pembelajaran maka, ditemukan suatu kondisi pembelajaran yang kurang kondusif selama proses KBM berlansung siswa tidak termotivasi, penjelasan guru.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti meminta bantuan teman sejawat untuk mengidentifikasi kekurangan dari mata pelajaran yang dilaksanakan.
Dari hasil diskusi tersebut terungkap beberapa masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu :
1)      RP yang disusun kurang sistematis
2)      Soal yang diberikan terlalu rumit, sehingga kedua hal teresbut menyebabkan :
a.       Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran
b.      Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru
c.       Perhatian siswa tidak terpusat pada guru
d.      Rendahnya minat baca pada murid
e.       Siswa tidak terlibat aktif dalam pembelajaran

3.2  Analisis Perumusan Masalah
3.2.1        Analisis Masalah
Berdasarkan hasil refleksi dan diskusi dengan teman sejawat serta supervisor, diketahui bahwa penyebab siswa kurang menguasai materi yang diajarkan adalah :
a.       Rendahnya dorongan atau motivasi instrinsik pada siswa
b.      Kurangnya contoh dan latihan
c.       Kurangnya penggunaan alat peraga secara kongkrit
d.      Metodenya kurang bervariasi

3.2.2        Perumusan Masalah
Dari fakto-faktor penyebab yang terdapat pada analisa masalah diatas, maka yang menjadi fokus perbaikan adalah “Bagaimana menigkatkan penguasaan siswa terhadap materi”

3.3  Rencana perbaikan
Berdasarkan analisis masalah dan perumusan masalah diatas, maka tindakan yang akan penulis lakukan adalah memperbaiki kinerja dan mengimplementasikan peran guru dalam memotivasi siswa dengan cara :
1.      Memperbaiki RP dengan cara :
a.       Guru merancang pemberian motivasi atau bantuan moral kepada siswa yang merasa putus asa karena hasil yang mengecewakan
b.      Guru merancang pelaksanaan belajar yang bervariasi agar tidak membosankan pada siswa
c.       Guru merancang materi belajar yang seimbang antara materi belajar yang mudah dan materi yang susah
d.      Guru merancang penanaman rasa percaya diri, kemandirian dan meningkatkan rasa antusias dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah
e.       Guru merancang pemberian tugas atau latihan secara bertahap sehingga akan memberikan pengalaman siswa dalam belajar
2.      Menyederhanakan bentuk soal
3.      Melaksanakan perbaikan pembelajaran menggunkan RP yang sudah diperbaiki dan soal yang sudah sederhana. Untuk penggunaan RP tersebut penulis mempersiapkan :
a.       RP yang sistematis
b.      Alat peraga yang kongkrit
c.       Metode yang bervariasi





BAB  IV
PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
4.1  Tempat dan Waktu Pelaksanaan Perbaikan Mata Pelajaran IPS
Perbaikan pembelajaran dilaksanakan di kelas IV SDN 09 karangtengah, dimulai tanggal 14 - 22 Februari  2011.
Jadwal pelaksanaan pembelajaran untuk setiap mata pelajaran IPS adalah :
Tanggal 14  Februari 2011 Pelaksanaan Rencana pembelajaran (RP)
Tanggal 17 Februari 2011 Pelaksanaan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP I)
Tanggal 22 Februari 2011 Pelaksanaan Rencana Perbaikan Pembelajaran (RPP II)
4.2  Prosedur Pelaksanaan perbaikan Pembelajaran Mata Pelajaran IPS
Prosedur dan langkah-langkah yang ditempuh dalam perbaikan pembelajaran IPS adalah :
1.      Kegiatan pembelajarn dimulai dengan apersepsi,
2.      Menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran,
3.      Membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang memberikan penjelasan yang harus dilaksanakan,
4.      Siswa melakukan diskusi untuk mengisi lembar kerja yang telah disediakan,
5.      Membimbing dan membantu siswa ketika berdikusi,
6.      Secara bergiliran siswa melaporkan hasil diskusi,
7.      Memberikan kesempatan kepada siswa dari kelompok lain untuk menanyakan tentang hal-hal yang kurang dipahami,
8.      Pembahasan secara klasikal yang disertai alat peraga,
9.      Menyimpulkan materi pembelajaran,
10.  Memberi tugas pekerjaan rumah dan melaksanakan tes formatif sebagai bahan umpan balik.
Sesuai dengan masalah yang dihadapi siswa yaitu rendahnya motivasi dan rendahnya penguasaan materi pelajaran IPS oleh siswa, maka yang menjadi fokus perhatian dalam perbaikan pembelajaran IPS adalah menumbuhkan minat baca siswa agar tidak takut bertanya ataupun menjawab pertanyaan.  











BAB  V
KESIMPULAN, SARAN DAN TINDAK LANJUT
6.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil perbaikan pembelajaran yang sudah dilaksanakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
a.       Dalam pembelajaran konsentrasi siswa dapat ditinggalkan jika menggunakan metode bervariasi dan penggunaan alat peraga yang menarik.
b.      Siswa akan lebih mudah memahami materi pelajaran jika menggunakan alat peraga yang kongkrit.
c.       Keberanian siswa dalam mengajukan dan menjawab pertanyaan dapat meningkat dengan memberikan kesempatan dan memberikan pujian kepada setiap siswa yang mau mengajukan dan menjawab pertanyaan.
d.      Keaktifan siswa dalam diskusi kelompok akan meningkatkan jika petunjuk pengerjaan yang jelas dan bimbingan guru.
6.2  Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas yang sebaiknya dilakukan oleh guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya keaktifan siswa dalam kelas diantaranya :
a.       Membuat scenario pembelajaran secara sistematik agar dapat memancing minat dan motivasi siswa ketika pembelajaran berlangsung.
b.      Guru selalu memantau dan membimbing siswa ketika proses berlangsung.
c.       Guru selalu member penghargaan kepada siswa yang mau mengajukan dan menjawab pertanyaan.
d.      Guru selalu menggunakan alat peraga yang menarik untuk membantu siswa agar mudah menguasai materi pelajaran.

6.3  Tindak Lanjut
Berdasarkan pengalaman dalam melaksanakan perbaikan pembelajaran melalui PTK, diharapkan ada kelompok kerja guru untuk membantu, bertukar pikiran dan pengalaman berkelana dengan masalah yang ditemukan dalam pembelajaran dan tugas mengajar sehari-hari, sehingga dapat ditemukan pemecahan dan dapat enemukan model pembelajaran sebagai alternatif pemecahan masalah tersebut.

6.4  Daftar Pustaka
Supriatna, Nana. (2006). IPS Kelas IV Bandung : Grafindo
Suciati (2002). Belajar dan Pembelajaran 2. Jakarta : Universitas Terbuka.
Wardani. I. GAK. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Universitas Terbuka
--------------------- (2008). Pemantapan Kemampuan Profesional. Jakarta : Universitas Terbuka

0 komentar:

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Abaut

http://wwwroges-ade.blogspot.com, between the and tags
  • About
  • http://wwwroges-ade.blogspot.com, between the and tags

    Popular Posts

    BTemplates.com

    Blogroll

    script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

    About

    script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

    Copyright © Roghes Family | Powered by Blogger
    Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com