Back to natural Selamat berkunjung di Blog ini !

Read More

Slide 1 Title Here

Slide 1 Description Here
Read More

Slide 2 Title Here

Slide 2 Description Here
Read More

Slide 3 Title Here

Slide 3 Description Here
Read More

Slide 4 Title Here

Slide 4 Description Here
Read More

Slide 5 Title Here

Slide 5 Description Here

Tuesday, July 13, 2010

KONSEP DASAR PTK

KONSEP DASAR PTK


(PENELITIAN TINDAKAN KELAS)







PENGANTAR

Salah satu masalah klasik namun sangat krusial yang dihadapi oleh guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah adalah masih sulitnya mereka menerapkan produk-produk penelitian dan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran yang direkomendasikan oleh pemerintah. Akibatnya hingga saat ini seringkali kinerja guru masih saja dipersoalkan oleh berbagai pihak.

Beberapa faktor pemicu munculnya masalah di atas antara lain disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) produk-produk inovasi pembelajaran dan hasil penelitian yang ditawarkan kepada guru sering kali tidak melibatkan guru dalam pembentukan pengetahuan (knowledge construction) sehingga ada kecenderungan produk-produk inovasi seringkali di luar jangkauan guru. (2) penyebarluasan (dessimination) inovasi pembelajaran dan hasil penelitian kepada kalangan praktisi pendidikan (guru) sering memerlukan jangka waktu yang lama, hal ini disebabkan karena kurang efektifnya pola atau model deseminasi yang dikembangkan selama ini, baik melalui seminar, penataran, maupun publikasi ilmiah akibat dari kurang termonitor dan kurang terencananya tindak lanjut selepas dari penataran atau seminar dan kurang jelasnya sasaran dan materi pembinaan (Tilaar, dkk, 1992). Deseminasi hasil penelitian dan inovasi-inovasi baru pendidikan melalui publikasi ilmiah sering kali membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, selain itu ditunjang oleh ‘budaya’ guru untuk membaca dan mencoba hasil penelitian dan inovasi yang didapat dari publikasi llmiah masih sangat rendah. Hal ini membuat ‘wajah’ pendidikan kita tidak pernah berubah mulai dari jaman kolonial sampai jaman global.

Namun demikian bukan berarti bahwa kualitas kompetensi professional guru tidak dapat ditingkatkan atau persoalan-persoalan yang dihadapi guru tidak dapat dipecahkan. Jalan pertama yang paling bijaksana untuk mengatasi hal ini adalah berusaha memotong jalur deseminasi yang berliku serta membekali dan membudayakan guru cara memecahkan masalah secara mandiri sekaligus dapat meningkatkan mutu pembelajaranya. Kedua menumbuhkan rasa butuh (need oriented) pada guru untuk mampu menafsirkan dan menerapkan hasil-hasil penelitian untuk kepentingan pengajaran. Sehingga dengan demikian penafsiran dan penerapan hasil-hasil penelitian bukanlah menjadi beban ekstra bagi seorang guru, melainkan sudah merupakan suatu kebutuhan mendasar yang melekat dan harus dipenuhi oleh seorang guru.

Salah satu upaya strategis yang dilakukan guna mengatasi permasalahan di atas adalah menggeser paradigma pendidikan dari bersifat top down menuju botom up yang bersifat konstruktivis, realistik pragmatis. Perubahan paradigma ini membawa konsekuensi logis bahwa guru tidak lagi ditempatkan sebagai penerima pembaharuan, namun guru juga turut bertanggungjawab dan berperan aktif dalam melakukan pembaharuan pendidikan serta mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya, khususnya dalam pengelolaan pembelajaranya di dalam kelas. Salah satunya pembekalan ketrampilan penelitian tindakan kelas.

Upaya ini akan memberi dampak positif ganda. Pertama, kemampuan dalam menyelesaikan permasalahan pembelajaran (learning problem) akan semakin meningkat. Kedua, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah investigasi terkendali akan dapat meningkatkan kualitas isi (content quality), masukan, proses, sarana dan prasarana, dan hasil belajar. dan ketiga¸ peningkatan kedua kemampuan tadi akan bermuara terhadap peningkatan mutu pendidikan dan kualitas luaran.

Melalui upaya ini (penelitian tindakan kelas) masalah-masalah pembelajaran dapat dikaji dan dituntaskan secara konstruktivis oleh guru, sehingga proses pembelajaran yang inovatif dan ketercapaian tujuan pembelajaran dapat diaktualisasikan secara sistematis.

Selanjutnya apa, mengapa dan bagaimana penelitian tindakan kelas tersebut dapat kita ikuti dalam uraian singkat di bawah ini.



PENGERTIAN PTK

Konsep penelitian tindakan bermula dari pandangan seorang ahli psikologi sosial yang bermana Kurt Lewin (1946). Lewin menggunakan pendekatan penelitian tindakan setelah usainya perang dunia ke dua dalam usaha menyelesaikan berbagai masalah sosial. Lewin pada saat itu mengemukakan dua ide pokok penelitian tindakan yaitu; (1) keputusan bersama, dan (2) komitment untuk meningkatkan dan memperbaiki prestasi kerja. Kedua ide pokok tersebut sekarang menjadi karakteristik dasar penelitian tindakan yang menegaskan perlunya usaha kolaboratif atau usaha secara bersama-sama dalam meningkat mutu prestasi kerja.

Pada tahun 1953, ide Lewin dikembangkan oleh Stephen Corey di New York sebagai pendekatan penelitian yang diselenggarakan oleh guru-guru sekolah. Pada Tahun 1976 Jhon Elliot menggunakan pendekatan ini untuk membantu guru mengembangkan usaha inkuiri dalam pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas yang kemudian dikenal dengan penelitian tindakan kelas (PTK).

Banyak ahli memberikan definisi tentang penelitian tindakan kelas (PTK) berikut ini akan disajikan beberapa definisi PTK yang dikemukakan oleh para ahl tersebut, (1) Standford (1970) mendefinisikan penelitian tindakan adalah ‘analysis, fact finding, conceptualization, planing, execution, more fact finding or evaluation; and then repetition of this whole circle of activities; indeed, a spiral of such circles, (2) Tim proyek PGSM (1999) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantaban rasional dari tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik pembelajaran tersebut dilakukan, (3) Mukhlis, Abdul dan Nur, Mohamad (2001) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat sistematis dan siklustis, (4) Kemis, Stephen dalam D. Hopkins (1992) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah ‘action research is a form of self reflective inquiry undertaken by participants in a social (including educational) situation inorder to improve the rationality and justice of (a) their own social or educational pratices, (b) their understanding of these practices, and (c) the situations in which practices are carried out’ (penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelaahan atau inkuri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktek-praktek sosial atau kependidikan yang mereka lakukan sendiri, (b) pemahaman mereka terhadap praktek-praktek tersebut, (c) situasi di tempat praktek itu dilaksanakan) Mills (2003) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Any systematic inquiry conducted by teacher researchers ... to gather information about how their particular schools operate, how they teach, and how well their students learn’. (5) Rapoport (1991) mendefinisikan penelitian tindakan kelas sebagai berikut; ‘Action research aims to contribute both to the practical concerns of people in an immediate problematic situation and to the goals of social science (including education) by joint collaboration within a mutually acceptable ethical framework.

Bila digabungkan definisi yang dikemukakan oleh para ahli di atas maka diperoleh batasan penelitian tindakan kelas sebagai sebuah proses investigasi terkendali yang berdaur ulang (bersiklus) dan bersifat reflektif mandiri, yang memiliki tujuan untuk melakukan perbaikan-perbaiakan terhadap sistem, cara kerja, proses, isi, kompetensi, atau situasi. Proses daur ulang (siklus) kegiatan dalam penelitian tindakan divisualisasikan pada Gambar 1.



Dari gambar 1 di atas terlihat dengan jelas daur ulang aktivitas dalam penelitian tindakan diawali dengan perencanaan tindakan (planing)¸ penerapan tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil tindakan (observation dan evaluation), dan melakukan refleksi (reflection), dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Secara lebih jelas uraian dari siklus tersebut akan diuraikan bagian selanjutnya.



PERBEDAAN PTK DAN DAN PENELITIAN FORMAL

Penelitian tindakan kelas muncul dari antitesis penelitian formal (empiris) karena penelitian formal dianggap hanya bersifat teoritis akademis. Metode penelitian formal cenderung kaku (rigid) sehingga tidak sesuai dengan setting objek secara alami, dan temuan penelitian yang demikian berupa perevisian, pengembangan, pengguguran, dan penemuan teori baru. Penelitian formal demikian dirasa ‘kurang’ banyak manfaatnya pada tataran perbaikan praktis.

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk menghasilkan informasi dan pengetahuan yang valid dan memiliki penerapan segera, untuk guru itu sendiri atau siswa-siswa mereka melalui refleksi kritis (critical reflection). Secara lebih jelas keterkaitan antara penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian formal (empiris) dan personal reflection dapat dilihat pada gambar 2.





Personal reflection: pengkajian kembali terhadap keberhasilan atau kegagalan berbagai tujuan dan untuk menentukan perlu tidaknya tindak lanjut dalam rangka mencapai tujuan akhir

Empirical Research: a formal method of study based on observed and measured phenomena that derives knowledge from actual experience.

CAR/PTK : a method of finding ou what works best in claas in order to improve student learning. CAR is more systematic and data based than personal reflection, but is more informal and personal than formal research.

Dari gambar 2 di atas diketahui diagram ven posisi penelitian tindakan kelas diantara personal reflection dengan empirical research. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan perpaduan positif di antara keduanya. Posisi PTK yang demikian tentu saja membawa konsekuensi logis perbedaan dan persamaan prinsip dengan penelitian formal (empiris). Berikut ini disajikan perbedaan di antara keduanya dalam bentuk matrik yang disajikan pada Tabel 1.







PRINSIP-PRINSIP PTK

Hopkins (1993) menyebutkan ada 6 (enam) prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas.

Prinsip pertama, bahwa tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas. Untuk itu, guru memilki komitmen dalam mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil, maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Dosen dan guru harus menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara siklustis sampai terjadinya peningkatan, perbaikan, atau ‘kesembuhan’ sistem, proses, hasil, dan sebagainya.

Prinsip kedua bahwa meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan penelitian tindakan selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu: persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran (evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection). Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah ilmiah.

Prinsip ketiga bahwa kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat, penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan analisis data. Obyektivitas, reliabilitas, dan validitas proses, data, dan hasil tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan agar tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.

Prinsip keempat bahwa masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan akan terjadi secara akademik.

Prinsip kelima bahwa konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.

Prinsip keenam adalah cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas pendidikan.

KARAKTERISTIK PTK

Berdasar uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya di atas, maka dapat dicermati karakteristik penelitian tindakan kelas, yang berbeda dari karakteristik penelitian formal, yaitu bahwa PTK merupakan;

an inquiry on pratice from within

Karakteristik pertama dari penelitian tindakan kelas bahwa kegiatan tersebut dimulai oleh permasalahan praktis yang dialami oleh guru dalam melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai pengelola program pembelajaran di dalam kelas atau sebagai jajaran staf pengajar di sekolah. Dengan kata lain penelitian tindakan kelas bersifat practice driven dan action driven, dalam arti bahwa penelitian tindakan kelas bertujuan memperbaiki praksis secara langsung ‘disini’, ‘sekarang’ sehingga seringkali istilah penelitian tindakan kelas dipertukarkan dengan istilah penelitian praktis.

Dari uraian di atas tersurat dengan jelas bahwa penelitian tindakan kelas menitikberatkan pada permasalahan yang spesifik dan kontekstual, hal ini membawa konsekuensi penelitian tindakan kelas tidak terlalu menghiraukan kerepresentativan sampel seperti pada penelitian formal karena memang tujuan penelitian tindakan kelas bukan untuk menemukan, mengembangkan atau merevisi sebuah teori yang dapat digeneralisasikan secara luas, penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk memperbaiki (improvement) permasalahan praktis dalam pembelajaran ‘disini’ dan ‘sekarang’.

Penelitian tindakan kelas juga berbeda dengan penelitian formal dalam hal metodologi, metodologi penelitian tindakan kelas tidak kaku seperti penelitian formal, dalam arti tidak terlalu memperhatikan kontrol terhadap perlakuan. Namun demikian sebagai kajian yang taat kaidah pengumpulan data tetap dilakukan dengan menekankan objektivitas. Pengungkapan kebenenaran dilakukan secara cermat dan objektif sehingga memungkinkan terselenggaranya peninjauan ulang oleh sejawat.

Dengan kata lain, sebagaiman halnya dengan penelitian formal, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan bukan untuk mengemukakan pembenaran diri (self justification), melainkan untuk mengemukakan kebenaran, meskipun jangkauanya lebih terbatas (tidak bisa digeneralisasikan ke populasi).

Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa penelitian tindakan kelas bepijak pada dua landasan yaitu involvment, keterlibatan langsung guru dalam pelaksanaan penelitian dan improvement, komitmen guru untuk melakukan perbaikan, termasuk perbaikan dalam cara berpikir dan kinerjanya sendiri, kerena itu penelitian tindakan kelas dapat menjadi self reflective inquiry bagi guru, dalam situasi nyata di dalam kelas.

Collaborativ

Upaya perbaikan proses dan hasil pembelajaran tidak dapat dilakukan sendiri oleh guru, tetapi harus berkolaborasi dengan sejawatnya. Penelitian tindakan kelas merupakan upaya bersama dari berbagai pihak untuk mewujudkan perbaikan yang diinginkan. Nuansa kolaborasi ini harus tertampilkan dalam keseluruhan proses mulai dari identifikasi masaah bersama, perencanaan, pelaksanaan penelitian tindakan kelas, observasi dan evaluasi, dan refleksi, sampai dengan penyusunan laporan akhir penelitian.

Reflective, Practice, Made Public

Penelitian tindakan kelas memiliki ciri khusus, yaitu sikap reflektif yang berkelanjutan untuk perbaikan (improvement) praktis. Berbeda dengan penelitian formal yang lebih mengutamakan pendekatan eksperimental, penelitian tindakan kelas lebih menekankan kepada proses ‘perenungan kembal’i (refleksi) terhadap proses dan hasil penelitian secara berkelanjutan untuk mendapatkan penjelasan dan justifikasi tentang kemajuan, peningkatan, kemunduran, kekurang efektifan, dan sebagaianya dari pelaksanaan sebuah tindakan untuk dapat digunakan memperbaiki proses tindakan pada siklus-siklus selanjutnya.

Every day Pratical Problems , penelitian tindakan kelas lebih memfokuskan permasalahan nyata di dalam kelas yang dihadapi guru sehari-hari, bukan berangkat dari permasalahan yang bersifat teoritis (teoritical problems). Oleh sebab itu penentuan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus berawal dari permasalahan nyata di dalam kelas, yang kemudian didiagnosis akar masalah dari permasalahan tersebut sebelum bisa menentukan langkah-langakah tindakan yang paling tepat.

Teori menuju aksi, Penelitian tindakan kelas dimaksudkan untuk mengadopsi teori kedalam tindakan nyata untuk merubah situasi yang sulit kedalam permasalahan praktis yang bisa dipecahkan.

TUJUAN DAN MANFAAT PTK

Apakah tujuan kita melakukan penelitian tindakan kelas? Sebagaimana sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, jawaban yang paling mudah terhadap pertanyaan tesebut adalah penelitian tindakan kelas dilaksanakan demi perbaikan (improvement) atau peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan/berkesinambungan. Mc Niff (1992) menegaskan bahwa dasar utama dilaksanakan penelitian tindakan kelas adalah untuk perbaikan, kata perbaikan disini harus dimaknai dalam konteks pembelajaran khususnya dan implementasi program pada umumnya

Jika tujuan utama penelitian tindakan kelas, untuk perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam menangani proses belajar mengajar, pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah ‘bagaiamana tujuan tersebut itu dapat tercapai?’ tujuan itu dapat tercapai dengan melakukan refleksi untuk mendiagnosis keadaan, kemudian mencobakan berbagai tindakan alaternatif secara sistematis guna memecahkan permasalahan tersebut, dengan kata lain, dilakukan perencanaan tindakan alterfnataif oleh guru, kemudian dicobakan, dan dievaluasi efektifitasnya dalam memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh guru. Daur tindakan inilah yang digambarkan dalam gambar 1 sebelumnya. Jika perbaikan dan peningkatan layanan profesional guru dalam konteks pembelajaran dapat terwujud akibat adanya PTK, dampak penyerta yang dapat dicapai sekaligus oleh kegiatan penelitian ini adalah tumbuhnya budaya dan produktivitas meneliti di kalangan praktisi pendidikan (guru).

Dengan demikian akibat logis dari uraian di atas maka banyak manfaat yang dapat dipetik, diantaranya yaitu (1) guru semakin diberdayakan (empowered) untuk mengambil berbagai prakarsa profesional secara mandiri, dengan kata lain prakarsa untuk melakukan ‘revolosi inovasi’ dalam pendidikan hanya akan berhasil jika dimulai dari ‘ujung tombak’ pelaksana di lapangan. (2) guru memiliki keberanian mencobakan hal-hal baru yang diduga dapat membawa perbaikan dalam kegiatan pembelajaranya di dalam kelas, keberanian ini berdampak pada munculnya rasa percaya diri dan kemandirian guru dalam memecahkan permasalahan pembelajaranya di dalam kelas. (3) Guru tidak lagi puas dengan rutinitas monoton (complacent), melainkan terpacu untuk selalu berbuat lebih baik dari sekarang yang telah diraihnya sehingga terbuka peluang untuk peningkatan kinerja secara berkesinambingan (continue).

Secara ringkas, inovasi pembelajaran yang bersifat bottom up (tumbuh dari bawah) dengan sendirinya akan jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan yang dilakukan dari ata (top down). Hal ini karena pendekatan inovasi pembelajaran yang bersifat top down tidak jarang berangkat dari teori yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru secara individual bagi pemecahan permasalahan pembelajaran yang tengah dihadapinya di dalam kelas.

BAGAIMANA MEMULAI PTK?

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk mengungkap penyebab masalah dan sekaligus memberikan solusi terhadap masalah. Upaya tersebut dilakukan secara terkendali dan kolaboratif. Langkah-langkah pokok yang umumnya ditempuh adalah: 1) penetapan fokus masalah penelitian, 2) perencanaan tindakan perbaikan, 3) pelaksanaan tindakan perbaikan, observasi dan interpretasi, 4) analisis dan refleksi, dan 5) perencanaan tindak lanjut.

Penetapan fokus masalah penelitian

Merasakan Adanya Masalah

Sebelum ada masalah yang ditetapkan, maka perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan kualitas pembelajaran yang selama ini dilcapai. Sikap demikian sangat diperlukan untuk menumbuhkan kemauan untuk memperbaiki diri. Pertanyaan-pertanyaan dapat diarahkan pada: apakah kualitas siswa sudah cukup baik? Apakah proses pembelajaran yang dilakukan sudah cukup efektif? Apakah sarana pembelajaran cukup memadai? apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas? dst. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah dalam pembelajaran.

Identifikasi Masalah

Selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masalah yang sangat merisaukan. Pada tahap ini yang paling penting adalah menghasilkan gagasan-gasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut dengan tahapan mengidentifikasi permasalahan.

Analisis Masalah

Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui proses identifikasi, maka dilanjutkan dengan analisis masalah untuk menentukan urgensinya. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau solusi (obat) yang akan diambil.

Merumuskan Masalah

Selanjutnya, masalah-masalah yang dapat diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik dan operasional. Perumusan masalah yang jelas akan memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh: apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?

Perencanaan Tindakan

Formulasi Hipotesis Tindakan

Setelah masalah dirumuskan secara operasional, maka perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang diambil dapat dirumuskan ke dalam hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan.

Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal. Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki suatu sistem, proses, atau hasil. Contoh: Pembelajaran menulis berpendekatan proses akan berdampak positif terhadap kualitas tulisan siswa.



Persiapan Tindakan

Sebelum pelaksanaan tindakan, maka perlu perencanaan sebagai tindakan persiapan. Beberapa hal perlu direncanakan secara baik, antara lain, (1) Membuat skenario pembelajaran yang berisikan langkah-langkah kegiatan dalam pembelajaran disamping bentuk-bentuk kegiatan yang akan dilakukan, (2) Mempersiapkan sarana pembelajaran yang mendukung terlaksananya tindakan, (3) Mepersiapkan instrumen penelitian, misalnya untuk mengobservasi proses, kegiatan, dan hasil pembelajaran, (4) Melakukan simulasi pelaksanaan tindakan dan menguji keterlaksanaannya di lapangan.

Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi

Pelaksanaan Tindakan

Jika semua tindakan dipersiapkan, maka skenario tindakan dilaksanakan dalam situasi pembelajaran yang aktual. Kegiatan pelaksanan tindakan perbaikan merupakan tindakan pokok dalam siklus penelitian tindakan. Pada saat pelaksanaan tindakan, kegiatan mengobservasi dan interpretasi dilakukan secara berbarengan dengan kegiatan refleksi. Penggabungan kegiatan tindakan, observasi, interpretasi, dan refleksi merupakan suatu kenyataan proses pembelajaran yang utuh.

Observasi dan Interpretasi

Secara umum, observasi merupakan upaya untuk merekam proses yang terjadi selama pembelajaran berlangsung. Mengingat kegiatan observasi menyatu dalam pelaksanaan tindakan, maka perlu dikembangkan sistem dan prosedur observasi yang mudah dan cepat dilakukan. Observasi akan memiliki manfaat apabila dilanjutkan dengan diskusi sebagai balikan. Balikan ini sangat diperlukan untuk dapat memperbaiki proses penyelenggaraan tindakan.

Analisis dan Refleksi

Analisis Data.

Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: reduksi data, paparan data, dan penyimpulan hasil analisis, (1) Reduksi Data. Reduksi data adalah proses penyederhanaan data yang dilakukan melalui seleksi, pengelompokkan, dan pengorganisasian data mentah menjadi sebuah informasi bermakna, (2) Paparan Data. Pemaparan data merupakan suatu upaya menampilkan data secara jelas dan mudah dipahami dalam bentuk paparan naratif, grafik, atau perwujudan lainnya, (3) Penyimpulan. Penyimpulan merupakan pengambilan intisari dari sajian data yang telah terorganisasikan dalam bentuk pernyataan atau kalimat yang singkat, padat dan bermakna.

Refleksi

Refleksi dimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah dan belum terjadi, apa yang dihasilkan, kenapa hal tersebut terjadi demikian, dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan. Komponen-komponen refleksi dapat digambarkan sebagai berikut.

ANALISIS PEMAKNAAN PENJELASAN PENYIMPULAN TINDAK LANJUT

Perencanaan Tindak Lanjut

Bila hasil perbaikan yang diharapkan belum tercapai pada siklus 1, maka diperlukan langkah lanjutan pada siklus 2. Satu siklus kegiatan merupakan kesatuan dari kegiatan perumusan masalah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan interpretasi, serta analisis dan refleksi. Banyaknya siklus tidak dapat ditetapkan, dan karenanya perlu dibuatkan semacam kriteria keberhasilan. Kriteria keberhasilan dapat ditetapkan, misalnya dengan menggunakan prinsip belajar tuntas. Apabila tingkat perbaikan yang diharapkan tercapai minimal 75%, maka pencapaian itu dapat dikatakan sudah memenuhi kriteria.

INSTRUMEN-INSTRUMEN DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Instrumen yang diperlukan dalam penelitian tindakan sangat sejalan dengan prosedur dan langkah penelitian tindakan kelas itu sendiri. Ditinjau dari hal tersebut, maka instrumen-instrumen itu dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu: instrumen untuk mengobservasi guru (observing teachers), instrumen untuk mengobservasi kelas (observing classroom), dan instrumen untuk mengobservasi perilaku siswa (observing students).

Pengamatan terhadap Perilaku Guru (Observing Teachers)

Observasi merupakan alat yang efektif untuk mempelajari tentang metode dan strategi yang diimplementasikan di kelas, misalnya, tentang organisasi kelas, respon siswa terhadap lingkungan kelas, dsb. Salah satu bentuk instrumen observasi adalah observasi anekdotal (anecdotal record).

Observasi anekdotal memfokuskan pada hal-hal spesifik yang terjadi di dalam kelas atau catatan tentang aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran. Observasi anekdotal mencatat kejadian di dalam kelas secara informal dalam bentuk naratif. Sejauh mungkin, catatatan itu memuat deskripsi rinci dan lugas peristiwa yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal tidak mempersyaratkan pengamat memperoleh latihan secara khusus. Suatu observasi anekdotal yang baik setidaknya memiliki empat ciri, yaitu: 1) pengamat harus mengamati keseluruhan sekuensi peristiwa yang terjadi di kelas, 2) tujuan, batas waktu dan rambu-rambu pengamatan jelas, 3) hasil pengamatan dicatat lengkap dan hati-hati, dan 4) pengamatan harus dilakukan secara obyektif.

Beberapa model pengamatan anekdotal diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain:a) Catatan Anekdotal Peristiwa dalam Pembelajaran (Anecdotal Record for Observing Instructional Events), b) Observasi Anecdotal Interaksi Guru-Siswa (Anecdotal Teacher-Student Interaction Form), c) Observasi Anekdotal Pola Pengelompokkan Belajar (Anecdotal Record Form for Grouping Patterns), d) Observasi Terstruktur (structured observation), e) Lembar Observasi Model Manajemen Kelas (Checklist for Management Model), f) Lembar Observasi Keterampilan Bertanya (Checklist for Examining Questions), g) Catatan Anekdotal Aktivitas Pembelajaran (Anecdotal Record of Pre-, Whilst-, and Post-Teaching Activities) , h) Catatan Anekdotal Membantu Siswa Berpartisipasi (Checklist for Routine Involving Students), dsb.

Pengamatan terhadap Kelas (Observing Classrooms)

Pengamatan anekdotal dapat dilengkapi sambil melakukan pengamatan terhadap segala kejadian yang terjadi di kelas. Pengamatan ini sangat bermanfaat karena dapat mengungkapkan praktik-praktik pembelajaran yang menarik di kelas. Disamping itu, observasi demikian dapat menunjukkan strategi yang digunakan guru dalam menangani kendala dan hambatan pembelajaran yang terjadi di kelas. Observasi anekdotal kelas meliputi deskripsi tentang lingkungan fisik kelas, tata letaknya, dan manajemen kelas.

Beberapa model pengamatan anekdotal kelas diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Format Anekdotal Organisasi Kelas (Form for Anecdotal Record of Classroom Organization), b) Format Peta Kelas (Form for a Classroom Map), c) Observasi Kelas Terstruktur (Structured Observation of Classrooms), d) Format Skala Pengkodean Lingkungan Sosial Kelas (Form for Coding Scale of Classroom Social Environment), e) Lembar Cek Wawancara Personalia Sekolah (Checklist for School Personnel Interviews), f) Lembar Cek Kompetensi (Checklist of Competencies), dsb.



Pengamatan Perilaku Siswa (Observing Students).

Observasi anekdotal terhadap perilaku siswa dapat mengungkapkan berbagai hal yang menarik. Masing-masing individu siswa dapat diamati secara individual atau bekelompok sebelum, saat berlangsung, dan sesudah usai pembelajaran. Perubahan pada setiap individu juga dapat diamati, dalam kurun waktu tertentu, mulai dari sebelum dilakukan tindakan, saat tindakan diimplementasikan, dan seusai tindakan.

Beberapa model pengamatan terhadap perilaku siswa diusulkan oleh Reed dan Bergermann (1992) yang dapat digunakan dalam PTK, antara lain: a) Tes Diagnostik (Diagnostic Test) , b) Catatan Anekdotal Perilaku Siswa (Anecdotal Record for Observing Students), b) Format Bayangan (Shadowing Form), c) Kartu Profil Siswa (Profile Card of Strudents), d) Carta Deskripsi Profil Siswa (Descriptive profile Chart), Sistem Koding Partisipasi Siswa (Coding System to Observe Student Participation in Lessons), e) Inventori Kalimat tak Lengkap (Incomplete Sentence Inventory), f) Pedoman Wawancara untuk Refleksi (Interview Guide for Reflection), g) sosiogram, dsb.
Read More

CONTOH PEMBUATAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

ANGGARAN RUMAH TANGGA






BAB I

KEANGGOTAAN DAN SATUAN ANGGOTA

Pasal 1

KEANGGOTAAN

Untuk menjadi anggota GANTI DENGAN NAMA LEMBAGA harus memenuhi ketentuan–ketentuan sebagai berikut :

1. Warga Negara Indonesia.

2. Menyatakan diri secara sukarela menjadi anggota.

3. Ditetapkan dan disahkan oleh Dewan Pembina.



Pasal 2

SATUAN ANGGOTA

Anggota GANTI DENGAN NAMA LEMBAGA terdiri dari :

1. Anggota biasa, yaitu semua anggota YCPI yang memenuhi ketentuan pasal 1.

2. Anggota luar biasa yaitu simpatisan dan para purna anggota ………….., anggota kehormatan, yaitu para cendekiawan dan mereka yang dianggap telah berjasa kepada …………. khususnya dan pengembangan masyarakat umumnya.



BAB II

KEWAJIBAN DAN HAK ANGGOTA



Pasal 3

KEWAJIABN ANGGOTA

1. Anggota Biasa :

a. Menghayati dan mengamalkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Lembaga.

b. Mentaati dan memenuhi seluruh keputusan lembaga.

c. Melaksanakan dan memperjuangkan seluruh keputusan lembaga

d. Membela kepentingan lembaga, manakala ada hal-hal yang akan merugikan nama baik lembaga.

e. Membayar iuran secara aktif.

2. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan :

Mempunyai kewajiban yang sama dengan anggota biasa lainnya kecuali ayat 1.e.

Pasal 4

HAK ANGGOTA

1. Anggota biasa berhak untuk :

a. Memperoleh perlakuan dan pelayanan yang sama dari lembaga.

b. Mengeluarkan pendapat dan mengajukan usul-usul dan saran-saran.

c. Mempunyai hak dipilih dan memilih.

d. Memperoleh perlindungan, pembelaan, pendidkan dan latihan, penataran, bimbingna dan ketermapilan dalam berorganisasi.

e. Hak-hak lain yang akan ditentukan dalam peraturan Organisasi.

2. Anggota luar biasa dan anggota kehormatan :

Mempunyai hak yang sama dengna anggota biasa kecuali nayat 1.c, 1.d, dan 1.e.



BAB III

KEHILANGAN KEANGGOTAAN, SKORSING DAN PEMBERHENTIAN

Pasal 5

1. Anggota kehilangan keanggotaannya karena :

a. Meniggal Dunia.

b. Atas permintaan sendiri secara tertulis.

c. Diberhentikan.

2. Anggota dapat skorsing atau diberhentikan apabila :

a. Bertindak bertentangan dengan AD/ART lembaga.

b. Bertindak merugikan atau mencemarkan nama baik lembaga.

3. Keputusan Skorsing atau pemberhentian hanya dapat dilakukan dengan peringatan terlebih dahulu, kecuali mengenai hal-hal yang luar biasa.

4. Anggota yang terkena tindakan skorsing atau pemberhentian dapat membela diri pada forum musyawarah yang diadakan untuk itu.



BAB IV

KEDUDUKAN, TUGAS, WEWENANG PESERTA & WAKTU RAPAT-RAPAT



Pasal 6

RAPAT PEMBINA PLENO

1. Memegang kekuasaan tertinggi dalam lembaga.

2. Menetapkan dan merubah AD/ART, Program kerja dan rekomendasi-rekomendasi prinsipil.

3. Menilai pertanggungjawaban pengurus.

4. Memilih dan menetapkan susunan pengurus melalui pemilihan formatur.

5. Memilih dan menetapkan Dewan Pembina.

6. Menetapkan rapat Dewan Pengurus berikutnya.

7. Rapat Dewan Pengurus Pleno diadakan sekali dalam lima tahun.

8. Rapat Dewan Pengurus Pleno dihadiri oleh anggota–anggota Dewan Pengurus.

9. Rapat Dewan Pengurus Pleno dianggap sah apabila dihadiri oleh setengah bagian anggota Dewan Pengurus.



Pasal 7

RAPAT TAHUNAN

1. Mengadakan penilaian tehadap pelaksanaan program umum dan menetapkan pelaksanaan selanjutnya.

2. Rapat tahunan diselenggarakan sedikitnya 1 kali dalam satu tahun.

3. Sekurang-kurangnya dihadiri oleh lebih dari setengah bahagian angota Dewan Pengurus.



Pasal 8

RAPAT KERJA PENGURUS

1. Mengadakan penilaian terhadap pelaksanaan program kerja dan menetapkan pelaksanaan selanjutnya.

2. Diselenggarakan sedikitnya sekali dalam tiga bulan.



BAB V

HAK BICARA DAN HAK SUARA

Pasal 9



Hak bicara dan hak suara peserta rapat adalah :

1. Hak bicara hakekatnya menjadi hak perorangan yang penggunaannya diatur oleh peserta rapat.

2. Hak suara anggota dipergunakan dalam pengambilan keputusdan pada sasarnya dimiliki oleh peserta.



BAB VI

SUSUNAN PENGURUS

Pasal 10

1. Dewan Pengurus Yayasan adalah badan tertinggi lembaga.

2. Komposisi Dewan Pengurus Yayasan adalah :

PEMBINA

Ketua :

Anggota : 1.

2.

PENGAWAS

Ketua :

Anggota : 1.

2.

PENGURUS

Ketua :

Sekretaris :

Bendahara :



DIVISI – DIVISI :

Koord. Divisi Diklat : 1.

2.

Koord. Divisi Litbang : 1.

2.

Koord. Divisi Perencanaan Program : 1.

2.

Koord. Divisi Advokasi : 1.

2.

Koord. Divisi Pengembangan SDM : 1.

2.

Koord. Divisi Humas dan Lembaga : 1.

2.





BAB VII

KEUANGAN DAN KEKAYAAN

Pasal 11

1. Iuaran anggota diatur dalam peraturan lembaga.

2. Hak-hak yang menyangkut pemasukan dan pengeluaran dari dan untuk lembaga wajib dipertanggungjawabkan dalam forum-forum yang akan ditentukan dalam peraturan lembaga.



BAB VIII

PEMBENTUKAN BADAN DAN LEMBGA BARU ATAU CABANG BARU

Pasal 12

1. Pembentukan Badan dan Lembaga baru atau Cabang baru dalam rangka pelaksanaan program dimungkinkan sejauh tidak menyimpang dan bertentangan dengan AD/ART lembaga.

2. Pembentukan Badan dan lembaga atau cabang sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal 12 tidak boleh menyebapkan timbulnya timpang tindih fungsi, wewenang dan tanggungjawab dalam tubuh lembaga.



BAB IX

PENYEMPURNAAN ANGGARAN RUMAH TANGGA

Pasal 13

1. Dewan Pengurus melalui rapat khusus membicarakan penyempurnaan ART yang selanjutnya dipertanggungjawabkan kepada rapat Dewan Pengurus Pleno berikutnya.

2. Penyempurnaan ART hanya dilakukan dalam rapat Pengurus Pleno.



BAB X

PENUTUP

Pasal 14

1. Hal-hal yang belum diatur ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga ini diatur dalam peraturan lembaga.

2. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ini berlaku sejak ditetapkan.







Ditetapkan Di :

Pada Tanggal :



DEWAN PEMBINA





________________________

Ketua
Read More

SISTEMATIKA PENULISAN RKS/M

SISTEMATIKA PENULISAN RKS/M




1.1 Daftar ISI RKS/M





1. Halaman Judul

2. Halaman Pengesahan

3. Kata Pengantar

4. Daftar Isi

5. Daftar Tabel

6. Daftar Lampiran



7. BAB I : PENDAHULUAN

A. Latar Belakang dan Sejarah Berdirinya Sekolah/Madrasah

B. Tujuan Dan Manfaat RKS/M (Sudah ada di Buku Panduan)

C. Landasan Hukum (Sudah ada di Buku Panduan)



8. BAB II : VISI, MISI DAN TUJUAN SEKOLAH/MADRASAH

A. Visi Sekolah/Madrasah

B. Misi Sekolah/Madrasah

C. Tujuan Sekolah/Madrasah



9. BAB III : PROFIL SEKOLAH/MADRASAH



10. BAB IV : HARAPAN

Harapan Pemangku Kepentingan



11. BAB V : PROGRAM KERJA SEKOLAH/MADRASAH

A. Sasaran

B. Program

C. Indikator Keberhasilan

D. Kegiatan

E. Jadwal Kegiatan

F. Penanggung Jawab Program



12. BAB VI : RENCANA ANGGARAN SEKOLAH/MADRASAH

A. Rencana Biaya Program

B. Perkiraan Sumber Pendanaan

B. Rencana Biaya dan Sumber Pendanaan



13. BAB VII : PENUTUP

Kesimpulan



14. Lampiran
Read More

Wednesday, June 23, 2010

Did you get my invite?


Add Friend Request from Desktopdating.net for aderoghes Ade Roghes wants to be your friend

aderoghes
Do you want to add Ade Roghes to your friends network ?
 
Click here to accept aderoghes as a friend
Accept
   Click here to reject friend request
Reject
Privacy Policy  Unsubscribe  Terms and Conditions
Read More

Tuesday, June 22, 2010

Ade Roghes has sent you a Desktopdating invitation



Add Friend Request from Desktopdating.net for aderoghes
Block Email | Mark Spam
Ade Roghes wants to be your friend

aderoghes
Do you want to add Ade Roghes to your friends network ?
 
Click here to accept aderoghes as a friend
Accept
   Click here to reject friend request
Reject

This invitation was sent to aderoghes.aderoghes@blogger.com by Ade Roghes < aderoghes@gmail.com> from 125.166.187.174
Privacy Policy  Unsubscribe  Terms and Conditions

Block Email
Read More

Friday, June 18, 2010

Ade Roghes has sent you a Desktopdating invitation


Add Friend Request from Desktopdating.net for aderoghes Ade Roghes wants to be your friend

aderoghes
Do you want to add Ade Roghes to your friends network ?
 
Click here to accept aderoghes as a friend
Accept
   Click here to reject friend request
Reject
This invitation was sent to aderoghes.aderoghes@blogger.com by Ade Roghes < aderoghes@gmail.com> from 118.96.203.214
Privacy Policy  Unsubscribe  Terms and Conditions
Read More

Sunday, April 25, 2010

UDANG

KATA PENGANTAR




Puji syukur kita panjatkan Kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) Udang Vanemei (Litopenaeus vannamei) di Balai Pengembangan benih Ikan Laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU) Pangandaran Ciamis Jawa Barat.

Laporan Praktek Kerja Industri ini merupakan hasil kegiatan pengalaman dan merupakan salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Nasional. Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Orang tua yang selalu memberikan dorongan dan dukungan baik secara moril maupun material kepada kami selam kegiatan

2. Bapak Tata Tamami, A.Pi selaku kepala Balai Pengembangan Ikan laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU) Pangandaran, yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan Praktek Kerja Industri dan menimba ilmu, terutama mengenai Pembenihan Udang Vanamei

3. Bapak Rohana, selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan arahan dalam menyelesaikan laporan Praktek Kerja Industri ini

4. Bapak Awan Sudianto S.Pd, selaku pembimbing SMK Negeri 1 Cibadak Sukabumi dan sebagai ketua jurusan Budidaya Ikan

5. Keluarga besar Teknologi Produksi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Serta seluruh pihak yang turut membantu dalam penyusunan laporan Praktek Kerja Industri ini.

6. Bapak Ir. Yudi Karyudi, selaku Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Cibadak.

7. Seluruh guru jurusan Budidaya Ikan, yang telah membantu dalam melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin).



Kami menyadari bahwa laporan Praktek Kerja Industri ini masih banyak kekurangan – kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran untuk menjadikan laporan ini lebih sempurna. Harapan kami semoga laporan akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan semua pihak. Dan apabila ada kesalahan dalam penulisan kata atau gelar kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.







Sukabumi, April 2009





Penulis

















BAB III PEMBAHASAN

3.1 Biologi ……………………………………………………………………… 10

3.1.1 Klasifikasi ………………………………………………………… 10

3.1.2 Morfologi ………………………………………………………… 11

3.1.3 Siklus Hidup ……………………………………………………… 12

3.1.4 Moulting ………………………………………………………….. 13

3.1.5 Tingkah Laku Makanan ………………………………………….. 14

3.2 Pemeliharaan Larva ………………………………………………………… 15

3.2.1 Persiapan Bak …………………………………………………….. 15

3.2.2 Penebaran Larva ………………………………………………….. 16

3.2.3 Pemberian Pakan …………………………………………………. 16

3.2.4 Pengelolaan Kualitas Air …………………………………………. 17

3.2.5 Sampling Pertumbuhan dan Populasi …………………………….. 17

3.2.6 Pencegahan dan Pemberantasan Hama Penyakit …………………. 18

3.2.7 Pemanenan ………………………………………………………… 18

3.2.7.1 Persiapan Pemanenan …………………………………… 18

3.2.7.2 Pengemasan dan Tranportasi …………………………… 19

3.3 Kultur Pakan Alami ………………………………………………………… 19

3.3.1 Kultur Chaetoceros sp ……………………………………………. 21

3.3.1.1 Persiapan Wadah ………………………………………... 21

3.3.1.2 Pemupukan ……………………………………………… 21

3.3.1.3 Inokulasi ………………………………………………… 22

3.3.1.4 Sampling Pertumbuhan Populasi ……………………….. 22

3.3.2 Penetesan Artemia ………………………………………………… 22

3.3.2.1 Persiapan Wadah ……………………………………….. 22

3.3.2.2 Penebaran Cyste Artemia ………………………………. 22

3.3.2.3 Pemanenan Artemia …………………………………….. 22



BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ………………………………………………………………… 24

4.2 Saran ……………………………………………………………………….. 24

DAFTAR PUSTAKA





























BAB I

PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang

Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) atau sering disebut Udang Putih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekspor yang tinggi. Udang vaname merupakan salah satu jenis spesies dari golongan karustase yang banyak dibudidayakan saat ini. Udang vaname ini memiliki kelebihan, lebih tahan dari penyakit dibandingkan dengan udang windu (Panaeus monodon), dan memiliki harga yang relative tinggi sehingga diharapkan mampu menggantikan udang windu sebagai komoditas udang unggulan di Indonesia.

Kegiatan pembenihan merupakan salah satu usaha untuk melestarikan ikan atau udang dari kepunahan. Udang vaname merupakan salah satu jenis ikan konsumsi yang sangat pupuler dikalangan masyarakat, baik masyarakat nasional maupun internasional. Minat masyarakat terhadap udang ini tidak pernah surut bahkan cenderung meningkat.

Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang Pangandaran merupakan salah satu balai yang bergerak dalam Pengembangan Benih ikan konsumsi air laut yang berada di Jawa Barat. Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang ini telah berhasil mengembangkan beberapa jenis ikan konsumsi air laut terutama udang vaname. Oleh karena itu, Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang Pengandaran dipilih sebagai tempat Praktek Kerja Industri dengan mengambil komoditas udang vaname









1.2 Tujuan Prakerin

Kegiatan praktek kerja industri ini bertujuan untuk memperdalam wawasan, menambah pengalaman serta keterampilan dalam pengolahan sumber daya perikanan. Selain itu, tujuan khusus dari kegiatan Prakerin ini adalah :

a. Mengidentifikasikan fasilitas utama, pendukung dan pelengkap dalam pembenihan

b. Mendapat pengetahuan dan keterampilan teknis maupun non teknis dalam kegaitan prakerin

c. Mengidentifikasikan dan mengatasi permasalahan yang timbul dalam kegiatan pembenihan udang vaname

d. Mampu mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan selama kegiatan prakerin

e. Membina kerja sama sekolah dengan Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU) sebagai sentral pembangunan dilingkungan masyarakat .

1.3 Manfaat Prakerin

Manfaat Praktek Kerja Industri ini sebagai berikut :

a. Sebagai suatu sarana untuk mengenal dunia usaha pembenihan udang vaname, dan sekaligus sebagai sentral pembangunan di lingkungan masyarakat

b. Meningkatkan keterampilan dan pengalaman kerja di lapangan dan menambah pengetahuan mengenai udang vaname di Balai Pemngembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU)









1.4 Waktu dan Tempat

Kegiatan Praktek Kerja Industri pembenihan ini dilaksanakan selama 4 bulan, mulai dari tanggal 5 Januari samapai dengan 30 April 2009. Lokasi Praktek Kerja Industri yang dipilih yaitu Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang Pangandaran Jawa Barat

1.5 Ruang Lingkup Praktek Kerja Industri (Prakerin)

Ruang lingkup kegiatan Praktek Kerja Industri ini meliputi pengamatan atau observasi langsung, konsultasi dengan pihak terkait dengan BPBILAPU Pangandaran ikut berpartisipasi dalam seluruh kegiatan yang dilakukan, serta mempelajari aspek- aspek yang mengandung kegiatan BPBILAPU Pangandaran ini, aspek – aspek tersebut meliputi, aspek produksi, pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia. Namun pada Praktek Kerja Industri ini, di fokuskan pada aspek produksi, pemasaran, keuangan, dan sumber daya manusia yang difokuskan pada unit usaha pembenihan udang vaname.























BAB II

KEADAAN UMUM



2.1 Keadaan Lokasi

BPBILAPU terletak di wilayah Kabupaten Ciamis yakni di Kampung Baru Desa Pangandaran Kecamatan Pangandaran BPBILAPU terletak dikawasan pariwisata Pantai Timur Pangandaran, dan memiliki luas 2,5 ha

Dahulu BPBILAPU bernama Balai Benih Udang Galah (BBUG), yang Pengembangannya dilakukan bersamaan dengan pembangunan Unit Pembenihan Udang Galah (UPUG) Pamarican. Lembaga Pemerinatah ini merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dibangun pada tahun 1979 – 1980, untuk mendukung pemerintah dalam Program Udang Nasional (PUN) yang dicanangkan sekitar pada tahun 1980.

Pada tahun 1982 BBUG Pangandaran mengfokuskan pengembangan udang vanamane, sedangkan pembenihan udang galah sebagai bagian sampingan. Berdasarkan SK Gubernur KDH Tingkat I Jawa Barat No. 4 tahun 24 Februari 1997, BBUG berubah menjadi Balai Benih Udang (BBU). Pada tahun 1998. Berdasarkan kebijakan Kepala Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat BBU Pangandaran hanya mengembangkan udang vaname, sedangkan kegiatan pengembangan Udang Galah (UPUG) di Pamarican. Pemerintah Provinsi Jawa Barat kemudian meningkatkan status Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Benih Udang Galah (UPUG) Pamarican sebagai UPT nya.

Sesuai dengan Perda no 5 tahun 2002, BBU Pangandaran diubah menjadi Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU), bahkan tidak hanya mengembangakan komoditas udang, tetapi juga komoditas ikan laut dan payau

2.2 Organisasi Balai dan Ketenagakerjaan

BPBILAPU dipimpin oleh seorang Kepala Balai yang secara struktural bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Barat. Kepala Balai ini membawahi sebagian Tata Usaha, Seksi Pengujian, Seksi Aplikasi Teknologi Ikan Laut, Seksi Aplikasi teknologi Udang, sebagai Tata Usaha terdiri atas kepala Tata Usaha yang membawahi bendahara, sekertaris, keamanan dan kebersihan. Pengembangan struktur organisasi BPBILAPU direncanakan dengan penambahan Instalasi dan kelompok jabatan Fungsional pengembangan struktur ini masih menunggu keputusan dari Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat. (Gambar 1)















Gambar 1. Struktur organisasi Balai Pengembangan Benih Ikan Laut Air Payau dan Udang















Pembagian kerja di BPBILAPU sesuai dengan keputusan Gubernur Jawa Barat No. 55 tahun 2002 adalah sebagai berikut :

 Kepala BPBILAPU mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksana kegiatan dibidang pengembangan benih ikan laut, air payau dan udang.

 Sub bagian tata usaha mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan rencana kerja, pengolahan administrasi kepegawaian, keuangan, perlengkapan umum seperti pelaporan.

 Seksi pengujian bertugas mengumpulkan, mengolah dan melakukan pengujian teknologi budidaya khususnya dalam pembenihan.

 Seksi aplikasi dan teknologi ikan bertugas mengumpulkan informasi, mengkoordinir kegiatan, serta melakukan pengujian terhadap komoditas ikan laut, menyusun menyajikan dan menyebar luaskan informasi hasil aplikasi teknologi pembenihan ikan

 Seksi aplikasi teknologi udang bertugas mengumplkan informasi, mengkoordinir kegiatan, serta melakukan analisa pengujian terhadap komoditas udang.

BPBILAPU Pangandaran memilliki beberapa pegawai yang mencukupi Pegawai Negeri Sipil (PNS), Tenaga Kerja Kontrak (TKK), Tenaga Kerja Lepas (TKL), dapat dilihat pada tabel 1













Tabel 1. Kepegawaian Balai Pengembangan Budidaya Ikan Laut Air Payau dan Udang. Berdasarkan tingkat pendidikan.

No Tingkat Pendidikan Jumlah Status Pendidikan

1 SD 2 orang TKK

2 SMA 6 orang PNS, TKK, TKL

3 PGA 1 orang PNS

4 SPMA 2 orang PNS

5 D1 1 orang PNS

6 D3 1 orang PNS

7 D4 1 orang PNS

8 S1 7 orang PNS, TKK



2.3 Fasilitas Fisik

2.3.1 Wadah

Fasilitas utama pembenihan udang vaname adalah wadah. BPBILAPAU memiliki beberapa unit Hatchery diantaranya, Hatchery A, B, dan C. Fasilitas Hatchery A terdiri dari bak pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk persegi panjang, berukuran 8 x 1,6 x 1,1 m dengan kapasitas 16,49 m, berjumlah 10 unit. Dalam bak tersebut terdapat saluran pamasukan, saluran pengeluaran dan saluran aerasi berjumlah 63 titik. Hatchery_B merupakan Hatchery pembenihan udang galah. Hatchery C terdapat bak budidaya udang windu.







2.3.2 Air

Air yang digunakan untuk pembenihan udang vaname di BPBILAPU terdiri dari 2 sumber yakni air tawar dan air laut. Air tawar digunakan untuk mencuci bak, mencuci peralatan, menurunkan salinitas air pemeliharaan benur udang vaname dan kebutuhan sehari - hari staf dan karyawan seperti memasak mencuci dan mandi. Air tawar bersumber dari perusahaan air minum (PAM) dengan debit 0,666 liter / detik.

Air laut berasal dari laut lepas yang dihisap dengan menggunakan pompa jenis CV-732 TC HZ electric pump, merek “ show fow “ dengan kapasitas output 7,5 Hp, 333 volt, 125 A, dengan debit 4,76 1 / detik. Pompa tersebut dihubungkan dengan pipa PVC, berukuran 3 inci yang ditanam dalam pasir sepanjang 30 m, pada ujung (pipa penghisap) sisi-sisinya diberi selang dan diberi kain kassa serta diberi saringan berukuran 56 dan 200 micron, kemudian diikat dengan benang Poliethilen. Air yang dihisap masuk ke bak reservoir, dalam bak reservoir, terdapat saringan fisik berupa injuk dan pasir.

Air kemudian ditampung dalam tendon utama yang berukuran 975 x 570 x 125 cm, dengan ketinggian 5 m dari dasar tanah, berjumlah 2 unti, sebelum didistribusikan keseluruh hatchey, air di filter dengan menggunakan fressure filter kemudian didistribusikan ke seluruh hatchery.

2.3.3 Sistem Aerasi

Aerasi berfungsi meningkatkan oksigen terlaur dalam air media pemeliharaan, sehingga dapat mempercepat penguapan gas beracun NH3 (amoniak) dan H2S (sulfur). Untuk mendapatkan udara (aerasi) digunakan blower sebanyak 2 buah dengan merek “ shou fou root blower “ berkapasitas 5 KVA, type IRH dengan output 500 rpm.



Pendistribusian dari ruang blower ke seluruh hatchery dengan menggunakan pipa, pipa primer 2 inchi, pipa sekunder ¾ inchi kemudian dihubungkan ke bak dengan menggunakan selang aerasi yang ujungnya diberi pemberat yang terbuat dari timah, kemudian diberi batu aerasi.

2.4 Fasilitas Pendukung

2.4.1 Energi dan Bangunan

Fasilitas pendukung yang digunakan di BPBILAPU yakni Energi dan Bangunan. Energi listrik bersumbr dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan daya sebesar 35 KVA yang dipusatkan pada ruang mesin, listrik digunakan untuk penerangan, menggerakan mesin pompa, pemanasan ( heater ). Selain itu terdapat 2 unit generator set ( GENSET ) dengan kecepatan putaran motor 1800 rpm dan daya 10 KVA, genset digunakan untuk menggerakan blower dan penerangan. Generator set digunakan bila PLN padam atau mengalami pemutusan jaringan dikarenakan ada gangguan teknis.

Fasilitas berupa bangunan di BPBILAPU Pangandaran terdiri dari perumahan karyawan sebanyak 10 unit, aula 90 m² sebanyak 2 unit, rumah genset dan blower 12 m² , serta tempat prakerin 174 m².















BAB III

PEMBAHASAN



3.1 Biologi

3.1.1 Klasifikasi

Udang vaname digolongkan kedalam genus Panaid pada Filum Arthropoda. Ada ribuan spesies difilum ini. Namun, yang mendominasi perairan berasal dari subfilum Crustrcea. Ciri – ciri subfilum crusteca yaitu memiliki 3 pasang kaki berjalan yang berfungsi untuk mencapit, terutama dari ordo Decapoda, seperti Litopenaeus chinesis, L. japonicus, l. monodon, L. stylirotris, dan Litopenaeus vannamei

Menurut D.A Susanto (1998), secara klasifikasinya udang vanamei adalah sebagai beriku :

Kingdom : Animalia

Subkingdom : Metozoa

Filum : Arthropoda

Subfilum : Crustacea

Kelas : Malacostraca

Subkelas : Eumalacosteraca

Superordo : Euracida

Ordo : Decapoda









Subordo : Denderobrachiata

Famili : Penaeidae

Genus : Litopeneus

Spesies : Litopeneus vannamei

3.1.2 Morfologi

Tubuh udang vaname dibentuk oleh 2 cabang (Biromous), yaitu exopodite dan endopodite. Vaname memliki tubuh berbuku –buku dan aktivitas berganti kulit luar ( moulting )

Ciri – cirri udang vanamei adalah sebagai berikut :

 Bagian kepala udang vanamei terdiri dari antenula, antenna, mandibula, dan 5 pasang kaki jalan

 Udang vanamae bagian kaki berjalan , terdiri dari 2 pasang maxillae dan 3 pasang maxillae dan 3 pasang maxilliped.

 Bagian perut vaname terdiri dari 6 ruas

 Uadang vaname bagian kaki renang, terdiri dari 5 pasang

 Bagian ekor udang vaname berbentuk seperti kipas

Bagian tubuh udang vanamae terdiri dari Kepala (thorax) dan perut (abdomen). Tubuh udang vanamae dapat dibagi atas 2 bagian yaitu ;

1. Kepala (thorax)

Kepala udang vaname terdiri dari antenula, antenna, mandibula, dan 2 pasang maxillae. Kepala udang vaname juga dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped 5 pasang kaki bejalan ( Peripoda ) atau kaki sepuluh (Decapoda).

Maxilliped berfungsi sebagai organ untuk makan. Bentuk poropoda beruas ruas yang berujung di bagian dactylus ada yang berbentuk capit ( kaki ke-1, ke-2, dan kaki ke3) dan juga yang tanpa capit (kaki ke-4 dan kaki ke-5).

2. Perut (Abdomen)

Abhdomen terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang dan sepasang uropods (mirip ekor) yang membenruk kipas bersama sama telson.

3.1.3 Siklus Hidup

Udang vaname bersifat nocturnal, yaitu melakukan aktifitas pada malam hari. Siklus hidup udang vaname sebelum ditebar dibak beton yaitu stadia nauplii, stadia zoea, stadia mysis, dan stadia postlarva.

1. Satadia Naupli

Pada stadia ini, larva berukuran 0,32 – 0,58 mm. Sistem ini pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa kuning telur, pada stadia ini udang vaname belum membutuhkan makanan dari luar.

2. Stadia Zoea

Stadia Zoea terjadi setelah naupli ditebar dibak pemeliharaan sekitar 15 – 24 jam. Larva sudah berukuran 1,05 – 3,30 mm. Pada stadia ini benih udang mengalami molting sebanyak 3x, lama waktu proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4-5 hari. Pada stadia ini, benih sudah dapat diberi makan alami seperti artemia.









3. Stadia Mysis

Pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropods) dan ekor (telson).

Ukuran larva berkisar 3,50 – 4,80 mm. Stadia ini memiliki 3 substadi yaitu mysis 1, mysis 2, dan mysis 3 yang berlangsung selama 3 – 4 hari sebelum masuk pada stadia postlarva (PL).

4. Stadia Postlarva (PL)

Pada stadia ini, benih udang vaname sudah tampak seperti udang dewasa. Pada stadia ini udang sudah mulai aktif bergerak lurus kedepan.

Sifat – sifat penting Udang Vaname :

o Aktif pada kondisi gelap (noctural)

o Dapat hidup pada kisaran salinitas lebar (euryhaline)

o Suka memangsa jenis ( kanibal )

o Tipe pemakan lambat, tetapi terus menerus (continous feeder)

o Menyukai hidup didasar ( Bentik )

o Mencari makan lewat organ sensor (chemoreceptor)

Sifat cenderung karnivora umumnya , Pertambak akan menebar PL 10 – pl 15 yang sudah berukuran rata – rata 10 mm

3.1.4 Moulting

Genus Pennaeid mengalami pergantian kulit (moulting) secara periodik untuk tumbuh, termasuk udang vannamei. Proses moulting berlangsung dalam 5 tahap yang bersifat kompleks, yaitu postmolting lanjutan intermolting ( premoulting ), dan molting (ecdysis). Proses moultin diakhiri dengan pelepasan kulit luar dari tubuh udang.





Faktor – Faktro Moulting

Moulting akan terjadi secara teratur pada udang yang sehat. Bobot udang akan bertambah setiap kali mengalami Moulting. Faktor – factor yang memperngaruhi Moulting massal yaitu kondisi lingkungan, gejala pasang, dan terjadi penurunan volume air atau surut.

3.1.5 Tingkah Laku Makanan

Udang termasuk golongan omnivore atau pemakan segala. Udang vaname mencari dan mengidentifikasikan pakan menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang terdiri dari bulu – bulu halus (setae). Organ sensor itu terpusat pada ujung anterior antenula, bagian mulut, capit, antenna, dan maxilliped. Dengan bantuan sinyal kimiawi yang ditangkap, udang akan merespon untuk mendekati atau menjauhi sumber pakan.

Fase tingkah laku makan udang vannmei

• Pendeteksian pakan dengan sinyal kimiawi

• Orientasi (pengalaman medan), saat udang akan bergerak menuju sumber pakan

• Bergerak mendekati sumber pakan

• Menjepit pakan dengan kaki jalan dan dimasukan ke dalam mulut

• Udang kan berhenti makan bila sudah kenyang













3.2 Pemeliharaan Larva

3.2.1 Persiapan bak

Persiapn bak penetesan telur diBalai Pengembangan Budidaya Ikan Laut dan Payau Pangandaran, dilakukan dengan cara disiram dengan air tawar dan disikat dengan bersih.

Bak yang telah dibesihkan dikeringkan dibawah sinar matahari selama 1 hari atau sampai digunakan dengan cara membuka terpal penutup bak. Pengisian air dilakukan dengan menggunakan pompa. Bak diisi air laut yang berasal dari tandon sampai bervolume 12 m², sebelum air masuk ke bak, air disaring menggunakan filter bag. Treatment air media dengan menggunakan EDTA dengan dosis 8 ppm.

Bak yang akan digunakan untuk pemeliharaan larva terbuat dari beton dengan ukuran 8,47 x 2 x 1,1, m dengan ketebalan dinding 19 cm. Sebelum digunakan bak pemeliharaan larva, terlebih dahulu wadah dibersihkan, bak dibersihkan dengan menggunakan sikat, spon terbuat dari bekas jarring) yang bertujuan untuk membersihkan jasad renik yang menempel pada bak, selain peralatan juga dibersihkan selang aerasi, batu aerasi ( timah ) dengan cara disikat dengan menggunakan spon. Setelah disikat kemudian dibilas dengan menggunakan air tawar, setelah itu bak dikeringkan hingga kegiatan pemeliharaan dilakukan pada bak tersebut.















3.2.2 Penebaran larva

Sebelum larva ditebar pada bak pemeliharaan larva, terlebih dahulu dilakukan pengaturan aerasi, aerasi pada bak pemeliharaan larva diusahakan tidak terlalu besar, karena pada stadia noupli masih rawan terhadap goncangan yang besar. Untuk Proses aklimatisasi dilakukan dengan cara mengapungkan plastic packing pada bak pemeliharaan larva, aklimatisasi dilakukan untuk menstabilkan suhu dalam kantong plastic packing dengan suhu dalam bak pemeliharaan yang bersuhu 29º C. Aklimatisasi dilakukan 10 – 15 menit kemudian karet pengikat plastic dibuka, lalu bagian bawahnya diangkat secara perlahan – lahan, agar naupli keluar dari plastic.

3.2.3 Pemberian pakan

Pakan yang diberikan untuk larva udang di Bali Pengembangan benih Ikan Laut Air Payau dan Udang (BPBILAPU) ada 2 jenis pakan yaitu pakan alami dan pakan buatan. Pakan alami yang digunkan fitoplankton dan artemia. Pakan alami terutama fitoplankton yang dikultur sendiri ditempat budidaya. Kultur plankton dilakukan selam 5 hari sebelum pemeliharaan larva. Fitoplankton diberikan pada larva dari mulai dtadia zoea sapai mysis dengan frekuensi pemeliharaan 3x sehari. Sedangkan artemia diberikan pada stadia mysis sampai larva dipanen, dengan frekuensi pemberian 4 atau 5 kali dalam sehari. Sedangkan pakan buatan diberikan pada 2 jam sekali dalam sehari. Teknik pemberian pakan dilakukan dengan cara penebaran pakan yang sudah dicampur dengan air dan disaring didalam ember lalu diberikan pada larva dengan menggunakan gayung secara merata ke bak pemeliharaan larva.







3.2.4 Pengelolaan Kualitas Air

Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara menyaring air yang masuk kedalam bak dengan menggunakan filter bag, selian itu dilakukan pergantian air pada waktu udang vaname memasuki stadia postlarva, penggantian air dilakukan dengan menggunakan air tawar yang dimasukan kedalam bak pemeliharaan dengan tujuan untuk menurunkan salinitas secara bertahap. Pergantian air dilakukan dengan membuang air bak pemeliharaan larva sebanyak 10 – 15 cm. Cara yang dugunakan adalah pipa ukuran 4 inci, pada bagian ujungnya dilapisi kain strimin berukuran 50 micron dan dipasang pada selang berukuran 1 inci, setelah itu air dibuang dengan cara disipon. Pengisian air dilakukan dengan cara memasang selang pada kran yang telah tersedia, pada ujung selang diberi filter bag untuk menyaring kotoran yang masuk bersama air.

3.2.5 Sampling Pertumbuhan dan Populasi

Sampling perumbuhan dilakukan dengan cara mengambil air contoh sebnyak 500 ml denga menggunakan gelas ukur, lalu tampung air dengan menggunakan gayung atau baskom. Dari bak pemeliharaan, pengmbilan dilakukan pada 2 titik , setelah itu dilakukan perhitungan secara manual dengan menggunakan lampu senter, lalu air dibuang sedikit demi sedikit untuk dihitung populasinya. Berapa larva yang tertangkap pada setiap titik kemudian dikali dengan volume air. Sampling biasanya dilakukan pada malam hari.











3.2.6 Pencegahan dan Pemberantasan Hama Penyakit

Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala produksi yang seing ditemukan pada usaha pembenihan. Hama biasanya berupa jenis binatang perairan atau darat yang dapat menimbulkan kerugian pada usaha budi daya udang, sedangkan penyakit banyak ditemukan pada udang – udang berusia muda baik pada sedia larva maupun post larva.

Lingkungan merupakan satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Timbulnya penyakit sangat tergantung pada keadaan lingkungan, jika lingkungan sehat dan bersih maka bibit penyakit susah berkembang untuk lebih memakan permasalahan yang timbul pada udang vaname maka diperhatikan suatu keterampilan dalam hal budidaya udang vaname di BPBILAPU Pengandaran, pada saat kami melaksanakan praktek terdapat beberapapa bak yang terserang penyakit. Penyakit yang menyerang Larva udang vaname ini diakibatkan oleh sejenis jamur yaitu vorticella sp. Penanggulangan yang dilakukan adalah dengan memberi larutan probiotik saat pemeliharaan berlangsung

3.2.7 Pemanenan

3.2.7.1 Persiapan Pemanenan

Setelah larva yang dipelihara telah mencapai ukuran panen yaitu PL 10 keatas, maka perlu dilakukan beberapa hal yaiut ; persiapanan panen, terutama alat pemanenan dan alat pengangkutan alat pemanenan yang perlu dipersiapkan antara lain bak penampungan benih sementara, baik persedian air, serok gayung (menyerupai helm) berdiameter 20 cm, baskom plastik berwarna biru berdiameter 30 cm, alat-alat takar yang terbuat dari bola pingpong dibagi 2 dan diberi lubang dan hapa sedangkan bahan yang perlu disimpan adalah oksigen, lakban, plastik packing berukuran 25 x 50 cm, karet gelang dan kardus besar beukuran 30x 40 x 40 cm serta sarana tranportasi berupa mobil ( pengankut )

3.2.7.2 Pengemasan dan Transportasi

Setelah pemanenan selesai, benih yang ditangkap ditampung terlebih dahulu dalam bak penampungan. Setelah itu ditangkap lalu dihitung secara manual dengan menggunakan takaran, kemudian dimasukan kedalam plastic packing yang di isi dengan karet gelang, lalu susun dalam kardus untuk diangkut.

Benih yang baik terlihat cerah, gerakan gesit, melawan arus, organ tubuh tidak cacat, ukuran seragam, dan ekor tampak mengembang jika sedang berenang.

Alat yang digunakan pengepakan meliputi : kantong plastik yang berukuran 20kg, kardus, media yang digunakan untuk pengankutan yaitu air dari media pemeliharaan larva dan dicampur dengan air tawar dan air laut yang bersal dari tandon pengembangan air lama dengan air baru yaitu 50 – 50, air baru terdiri dari air tawar dan ari laut, penambahan air tawar dilakukan untuk menemukan salinitas air. Pengangkutan dilakukan dengan menggunakn kendaraan terbuka berupa colt diseal

3.3 Kultur Pakan Alami

Salah satu faktor yang paling penting dalam kegiatan pembenihan adalah

Ketersediaan sumber pakan alami yang tetap bagi larva. Mikro Algae yang dibudidayakan di BPBILAPU adalah Chaetoceros sp. Dalam pemilihan jenis pakan alami, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah ;

a. Mudah dikultur atau dibudidayakan, murah dan memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan,

b. Ukuran sel sesuai dengan bukaan mulut larva

c. Mudah dicerna dan bernilai giji tinggi,

d. Pertumbuhannya cepat sehingga dapat tersedia pada saat dibutuhkan

e. Tidak menghasilkan racun yang berbahanya bagi kehidupan larva

f. Gerakan organisme Lambat tidak terlalu cepat, sehingga dapat dengan mudah ditangkap oleh larva

Berdasarkan kriteria di atas, maka salah satu jenis pakan alami yang ideal untuk larva adalah mikro algae. Kelebihan mikro algae dibandingkan dengan jenis mikro algae lain adalah :

1. Ukuran lebih kecil dari bukaan mulut larva,

2. Mengandung asam lemak esensial ( HUFA ) yang sangat penting bagi pertumbuhan kekebalan tubuh dan pembentukan sel pada larva

3. Mengandung enzim pencernaan yang bersifat autolisis sehingga mudah untuk dicerna

4. Mengandung polisakarida spesifik pada dinding sel yang diduga dapat meransang system kekebalan tubuh

5. Memiliki sifat anti bodi atau imunostimulantory

6. Menjaga kualitas air dengan mengurangi / menghilangkan substansi mnitrogen dan membentuk kondisi atau warna air menjadi gelap



















3.3.1 Kaltur Chaetoceros sp

3.3.1.1 Persiapan wadah

Wadah yang digunakan unutk kultur chaetoceros di BPBILAPU Pangandaran, adalah bak beton yang berukuran 6,5 x 1,3 x 1,0 m, sebelum bak digunakan untuk kultur pakan alami, bak dicuci terlebih dahulu dari kotoran yang menempel di dinding dan dasar bak dengan cara disiram dengan air laut, kemudian diding dan dasar bak disikat dengan menggunakan spons beserta selang dan batu aerasi setelah itu disiram kembali dengan air laut, setelah bersih kemudian bak di isi air laut sampai ketinggian air yang diperlukan

Kultur Chaetoceros biasanya dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB atau pada sore hari pukul 16.00 WIB

3.3.1.2 Pemupukan

Setelah bak terisi air kemudian dilakukan pemupukan dengan menggunakan pupuk urea, sebelum melakukan pemupukan terlebih dahulu melakukan pengkulturan dengan alat dan bahan seperti ember kecil dan aerasi ember pengkulturan dibagi 3 ember ; pertama pengkulturan menggunakan sikat 400 ml dan EDTA 200gr yang didisi air sebanyak 3 liter, ember kedua pengkuklturan menggunakan EDTA 86gr dan FECL 70gr dan diisi air sebanyak 3 liter. Ember ketiga pengkulturan menggunakan TSP 125gr dan urea 500gr. Lalu diberikan ke bak plankton sebanyak 250ml yang diambil tiap ember pengkulturan. Setelah itu diberi vitamin B komplek sebanyak 1 butir / bak Setelah bak terisi air









3.3.1.3 Inokulasi

Setelah air media dipupuk kemudian inokulasi ditebar dengan cara ditumpahkan ke beberapa titik agar inokulasi menyebar. Inokulasi biasanya berasal dari kultur sebelumnya atau mengambil dari hatchery yang lain, Inokulasi yang diberi sebanyak 6 liter

3.3.1.4 Sampling Pertumbuhan Populasi

Sampling bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi plankton. Metode sampling dilakukan dengan cara melihat dengan mata telanjang dengan melihat perubahan warna air menjadi coklat tua.

3.3.2 Penetasan Artemia

3.3.2.1 Persiapan Wadah

Wadah yang digunakan untuk penetesan Artenia berupa bak fiber yang berbentuk conicle dengan diameter 0,85m, sedangkan diameter bawah 0,58m. sebelum digunakan fiber dibersihkan terlebih dahulu dibilas dengan air laut, setelah itu digosok dengan menggunkan spons sampai bersih, lalu dibilas kembali dengan air bersih dan diisi air sebanyak kurang lebih 100 Liter

3.3.2.2 Penebaran Cyste Artemia

Setelah air dimasukan kedalam fiber penetesan artemia, kemudian diberi aerasi setelah itu memasukan artemia sebanyak 800gr. Penetesan biasanya dilakukan 12 jam dari penebaran.

3.3.2.3 Pemanena Artemia

Pemanenan artemia dilakukan setelah 24 jam atau cyste artemia telah menetas menjadi naupli artemia, Pemanenan dilkukan dengan cara mematikan system aerasi, kemudian fiber ditutup agar tidak tembus cahaya, kemudian biarkan selama 10-15 menit dengan tujuan agar artemia berkumpul dibawah, sedangkan cangkangnya mengumpul dibagian atas.

Setelah 15 menit kemudian lakukan pemanenan dengan cara membuka kran yang berada didasar fiber secara perlahan-lahan, naupli artemia yang keluar dari kran ditampung dalam baskom dan disaring menggunakn saringan berukuran 150 mikron yang diletakkan dalam baskom







































BAB IV

PENUTUP



4.1 Kesimpulan

Berdasrakan hasil pengamatan yang telah dilakukan, maka kami dapat menyimpulkan

Budidaya udang vannamei dengan system intensif dengan kontruksi bak yang seintensif dari bak berukuran 8 x 1, 6 x 1, 1m dengan kapasitas 16,49 m² berjumlah 10 unit tetapi yang digunakan 9 bak mempunyai kelebihan sebagai berikut :

“Masa persiapan lebih cepat, sehingga siklus budidaya lebih banyak dan akhir produksi tahunan lebih meningkat”

Managemen pemberian pakan diberikan 2 jam sekali dalam 24 jam, cara pemberian pakan yaitu dengan cara ditebar langsung ke bak, Dosis pemberian pakan selalu berubah-ubah seiring dengan proses pertumbuhan dan nafsu makan udang.

Pencegahan hama dan penyakit yang masuk ke media pemeliharaan yaitu dengan menambah dosis larutan probiotik, agar tidak mudah terkena jamur vorticella sp

- untuk pencegahan penyakit, kita dapat mempertahankan kualitas air dengan lingkungan

4.2 Saran

Saran yang kami sampaikan setelah praktek kerja lapangan di BPBILAPU Pangandaran, yaitu :

Untuk pertumbuhan udang yang baik diperlukan dosis pakan yang akurat.

Salinitas yang terlalu tinggi, dapat menghambat pertumbuhan udang , maka cara menangani salinitas yang tinggi yaitu dengan cara pengenceran atau penggantian air





DAFTAR PUSTAKA



Susaanto D.A 1998 Pembuatan kultur mikro organisme dari Lumpur aktif untuk menurunkan kadar aromia pada tambak udang intensif, skiripsi, jurusan Biologi Universitas Pajajaran (Bandung 1998)

Ahmad,T. 1991 Pengolahan Pengubah Mutu air yang penting dalam tambak udang Intensif, Balai penelitian Perikanan Budidaya pantai Maros

Cocok. Endhay K. Mencegah kematian masal udang akibat penyakit “White Spot” Dirjen

Erik S 1999 Perikanan Balai Budidaya Air Payau Jepara. 15 P
Read More

Thursday, April 22, 2010

PROGRAM UAS/UASBN

PROGRAM


PENYELENGGARA UASBN DAN UJIAN SEKOLAH

TAHUN PELAJARAN 2008 – 2009



UPTD P DAN K KEC. CIBADAK









































































SDN 09 KARANGTENGAH

Jln. Slamanjah No. 62 Batunuggal – Cibadak

Tlp. 0266-534028 e-Mail : sdkaratesembilan@ yahoo.co.id;gegetuk_smi@yahoo.co.id























KATA PENGANTAR



Salah satu upaya dalam meningkatkan kualitas proses hasil belajar, dapat dilakukan melalui system penilaian. Dalam penilaian proses dan hasil belajar siswa, aspek – aspek yang berkenaan dengan alat penilaian , perlu dilaksanakan dan direncanakan sebaik mungkin , sehingga akan didapatnya kualitas yang sangat memuaskan.

Kami mencoba menyusun dan membuat rancangan Program Pelaksanaan Kegiatan Ujian Sekolah ( US ) Tahun pelajaran 2008/2009 di SDN 09 Karangtengah dengan tujuan untuk dapat digunakan sebagai pedoman dan tujuan arahan dalam pelaksaan kegiatan Ujian Sekolah ( US ) baik tertulis maupun praktek , dengan harapan pada akhirnya segala apa yang direncanakan dapat berjalan dengan baik dan lancer.

“ Tak ada gading yang tak retak “ , Begitulah kata pepatah . Maka kamipun menyadari sepenuhnya bahwa buku program ini jauh dari sempurna . Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, kami memohon adanya saran dan arahan dari semua pihak yang terkait , untuk kami jadikan bahan perbaikan pada pelaksanaan selanjutnya.

Semoga Allah SWT selalu memberkahi setiap langkah kita. Amin.







Cibadak, April 2009

Kep. SDN 09 Karangtengah/Penyelenggara

Ujian Sekolah ( US ) 2009









ENOK ROHMAH

NIP. 130 452 783





































BAB I

PENDAHULUAN



A. LATAR BELAKANG



Telah kita maklumi bersama bahwa di setiap jenjang dan lembaga pendidikan kegiatan Ujian Sekolah merupakan suatu rangkaian kegiatan yang tidak terlepas dari komponen suatu proses pendidikan sebagai wahana dalam mengukur hasil dan tujuan pendidikan.

Sebagai komponen kurikulum,sebagai rencana dan sebagai kegiatan peranan evaluasi sangat menentukan,tidak saja dapat memberikan imformasi mengenai tingkat pencapaian keberhasilan belajar siswa atau peserta didik,tapi juga dapat memberikan imformasi mengenai komponen kurikulum lainnya melalui kegiatan evaluasi , komponen-komponen kurikulum lainnya dapat di kaji.

Demikian pentingnya evaluasi pendidikan ,sehingga memerlukan perhatian dan penanganabn yang khusus dan sungguh-sungguh dari setiap aparat pendidikan agar hasil yang diperoleh benar-benar merupakan hasil yang dapat memenuhi harapan semua pihak bagi lembaga pendidikan maupun bagi lulusan ,sehingga pada akhirnya pencapaian keberhasilan pendidikan itu menjadi tolok ukur dalam evaluasi tahun yang akan dating.



B. UNDANG – UNDANG



1. UU No. 20 Th.2003,tentang system Pendidikan Nasional

2. Keputusan Pemerintah No.28 Th.1990,tentang Pendididkan Dasar (Lembaga Negara Th.1990 No. 36 tambahan Negara th.1998 No.90,tambahan Lembaran Negara No. 3763 ).

3. PP No. 25,th.2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi ( Lembaga Negara th.2000 No.54,tambahan Negara No. 3952 ).

4. Keputusan MENDIKNAS No.011/U/2002,tgl. 28-01-2002 tentang penghapusanEBTANAS SD/MI.

5. Keputusan MENDIKNAS No.012/U/2002 tgl.28-01-2002 tentang Penilaian di SD/MI.

6. Keputusan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No .860/C/Kep/LK/2002 tgl. 28-11-2002.

7. Pedoman Penyelenggara Ujian Akhir Sekolah di SD,SLB dan MI,Dirjen Dikdasmen Depdiknas th.2004.

8. Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi JABAR No.423.7/Kep-1286/BP/2005 TGL.18-04-2005.



C. TUJUAN UJIAN SEKOLAH



1. Memacu tercapainya tujuan kurikulum

2. Memacu agar PBM dilaksanakan berdasarkan kurikulum.

3. Mempercepat peningkatan dan pemerataaan mutu pendidikan

4. Mengadakan standar mutu secara nasional.



D SISTEMATIKA



Ruang lingkup dan sistematika penyusun meliputi



BAB I PENDAHULUAN

BAB II PENGORGANISASIAN

BAB III RENCANA KEGIATAN

BAB IV RENCANA ANGGARAN

BAB V PENUTUP









BAB II

PENGORGANISASIAN



A. Pengorganisasian Personalia.



1.Susunan Panitia.



Ketua : Enok Rohman

Sekretaris : Ida Rosida

Bendahara : Sri Rohayati, S.Pd.



Anggota : 1. Ade R Gunawan

2. Marup



Pengawas Ruang :

1. Cicih Parsih, S.Pd

2. Imas Masriah,S.Pd

3. Haryanti

4. Esih Sukaesih, S.Pd

5. Edah Rosidah,S.Pd

6. Eneng Buldaningsih, S.Pd



Pemeriksa :

 1. Iis Sugriati

2. Nelis Marsidah, S.Pd

3. Eem Suhaemi

4. Nanang



Pembantu Umum :

Ujang Seprodi

Agus Ismail H



2. Rincian Tugas Kepanitiaan.



Untuk tercapainya penyelenggaraan yang tertib dan berhasil baik,maka membagi tugas kerja dengan rincian sebagai berikut:

a. Penanggung jawab.

Mempertanggungjawabkan kegiatan US ( Ujian Sekolah ) tahun 2008-2009

b. Ketua.

• Mengawasi seluruh kegiatan US ( Ujian Sekolah )

• Bersama Sekretaris membuat rencana kerja US Th. 2008-2009

• Bersama Bendahara membuat rencana anggaran US.

• Bersama Sekretaris membuat laporan penyelenggaraan US.

• Bersama para Kep.Sek. membahas rencana kegiatan US.

• Bersama bendahara melaporkan anggaran kegiatan US



c. Sekretaris.

• Bersama Ketua menyusun Program Kerja US th.2008-2009

• Bersama Ketua membuat laporan penyelenggaraan US

• Mengkoordinir seluruh penyelenggaraan US

• Mewakili Ketua apabila berhalangan hadir



d. Bendahara.

• Bersama Ketua menyusun anggaran biaya US di kelompok penyelenggara.

• Menerima dan mengelola keungan serta mempertanggungjawabkan

Pengeluaran dan pemasukan











e. Anggota.

• Mendata dan menyusun calon peserta US sesuai dengan data yang ada pada S. 15.

• Membuat nomor peserta US

• Membuat daftar hadir peserta US.

• Membuat tata tertib peserta dan pengawas.

• Mengedarkan daftar hadir pengawas ruang.

• Menyerahkan naskah soal kepada pengawas ruang.

• Menerima lembar jawaban dari pengawas ruang.

• Mempersiapkan dan mengatur penempatan peserta

• Membuat format-format.

• Membuat denah penempatan peserta.

• Mengecek soal.

f. Pembantu Umum.

• Membantu panitia menyediakan ruangan

• Menyediakan tempat duduk peserta

• Memasang nomor ruangan

• Menyediakan alat yang diperlukan pengawas dan peserta

• Menjaga keamanan dan ketertiban selama US berjalan

• Menyediakan konsumsi untuk panitia dan pengawas

• Lain – lain



B. PENGORGANISASIAN PARA PESERTA

Jumlah peserta US SDN 09 Karangtengah



a. Putra : 38

b. Putri : 33



Jumlah : 71































































BAB III

RENCANA KEGIATAN







No. URAIAN KEGIATAN WAKTU

1. Pendaftaran calon peserta US dan sekolah penyelenggara Jan – Feb. 2009

2. Penetapan SD/MI penyelenggara oleh Dinas/Kandepag Minggu I – II Maret 2009

3. Sosialisasi SOP/Juknis US oleh Dinas Kabupaten/Kandepag Minggu I – II Maret 2009

4. Pembentukan Panitia US di masing-masing SD/MI 27 Maret 2009

5. Pembentkan tim pengawasan/pemeriksaan US 27 Maret 2009

6. Pelaksanaan Ujian

a. Ujian Praktek Utama

b. Ujian Praktek Sususlan

c. Ujuian Tertulis Utama 11 – 17 Mei 2009

d. Ujian Tertulis Sususlan

7. Pemeriksaan hasil US

8. Rapat penentuan kelulusan di sekolah

9. Pengumuman hasil kelulusan dan tgl titimangsa ijazah Minggu III Juni 2009

10. Pelaporan kelulusan

a. Dari SD ke UPTD

b. Dari UPTD ke Dinas Kabupaten

c. Dari Dinas Kab. Ke Dinas Propinsi

11. Pendistribusian blangko ijazah

a. Propinsi ke Kokab

b. Kokab ke UPTD

c. UPTD ke SD

12. Penulisan dan penandatanganan Ijazah oleh sekolah penyelenggara

13. Pembagian ijazah bagi siswa yang lulus

















































BAB IV

RENCANA ANGGARAN







A. RENCANA BIAYA



1. Biaya Ulum Semester II 71 x Rp. 10.000 : Rp. 710.000,00

2. Pas Photo 71 x Rp. 10.000 : Rp. 710.000,00

3. Tambahan jam belajar/pemadatan : Rp. 1.420.000,00

4. Penyusunan kisi-kisi soal : Rp. 710.000,00

5. Penuyusunann naskah soal : Rp. 710.000,00

6. Penggandaan Soal : Rp. 497.000,00

7. Administrasi kepanitiaan : RP. 500.000,00

8. Label peserta : Rp, 213.000,00

9. Ujian Praktek : Rp. 1.660.000,00

10. Biaya Pengawasan : Rp. 1.660.000,00

11. Biaya Pemeriksaan : Rp. 1.420.000,00

12. Biaya Monitoring : Rp. 600.000,00

13. Biaya Pelaporan : Rp. 250.000,00

14. Penulisan STTB : Rp. 355.000,00

15. Laminating : Rp. 284.000,00

16. Foto Copy dan Legalisir : Rp. 355.000,00

17. Konsumsi : Rp. 1.000.000,00

18. Tak Terduga : Rp. 1.946.000,00



JUMLAH : Rp.15.000.000,00







B. RENCANA PENERIMAAN



Penerimaan anggaran seluruhnya dari BOS sesuai RAPBS Th. 2008-2009

Dengan ratio71 siswa X Rp. 211.300,00.



















































BAB V

PENUTUP







A. Kesimpulan



Program kerja ini disusun sebagai pedoman dalam penyelenggaraan US ,dengan harapan dapat memenuhi syarat dan ketentuan sehingga pelaksanaannya tidak menyimpang dari segala perencanaan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.Sebab keberhasilan suatu program bukan saja dapat dilihat dan ditentukan oleh aspek perencanaan saja,tetapi aspek-aspek lain sangat berpengaruh.Untuk itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak agar tujuan yang telah ditetapkan dapat berhasil



B. Saran

Guna lebih meningkatkan hasil dan program kerja terlaksana dengan baik maka diperlukan berbagai sarana yang dapat menunjang kegiatan.Untuk itu koordinasi dan pembinaan hendaknya dilaksanakan dengan pendekatan yang lebih intensif dari segenap aparat Pembina dan pelaksana sehingga akan tercapai satu gerak yang sama kepada pencapaian tujuan

Guna lebih meningkatkan hasil program ini perlu satu tuntutan kearah kesempurnaan,untuk itu saran-saran yang bersipat membangun sangat diperlukan oleh setiap penyelenggara.







Diketahui Cibadak, Mei 2009

Pengawas TK/SD Kep.Sek/Panitia









CECEP SURYANA,S.Pd. ENOK ROHMAH

NIP. 1311603796 NIP. 130452783







Diketahui

Kep.UPTD P& K Cibadak







Drs.TAOFIK HIDAYAT

NIP. 131317980
Read More

Social Profiles

Twitter Facebook Google Plus LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Abaut

http://wwwroges-ade.blogspot.com, between the and tags
  • About
  • http://wwwroges-ade.blogspot.com, between the and tags

    Popular Posts

    BTemplates.com

    Blogroll

    script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

    About

    script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

    Copyright © Roghes Family | Powered by Blogger
    Design by Lizard Themes | Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com